Selasa, 17 November 2015

Paris, Duka itu Milik Siapa?

Karena dunia begitu kaya,
Dia memiliki segala suka dan duka
Luka yang pedih dan obat yang pahit
Karena dunia hanya berputar,
Dia tak peduli orang yang tinggal di dalamnya mengejar dirinya
Dengan kepandaian secuil, sombong menaklukan dunia
Siapa menaklukan siapa
Begitu dungunya kita
Karena dunia itu Cuma diam
Dunia tidak kejam, tidak juga bersahabat

Jadi saat orang-orang meributkan bom Paris, lalu saling nyinyir tentang pemasangan bendera Perancis sebagai tanda berkabung. Sementara yang lain mencemooh nyinyir, kenapa respon serupa tidak dilakukan saat penduduk Myanmar beretnik Rohingya mendapatkan perlakuan sadis, genosida, seperti juga suku-suku yang ada di Afrika. Atau hujan bom yang menghancurkan Palestina, Beirut, Yaman, Syria.  Peperangan, penindasan yang menyebabkan gelombang pengungsian. Tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Terkatung-katung berhari-hari di lautan, tanpa tujuan yang pasti. Lapar, haus, sakit, luka jiwa.

Jadi bendera apa yang akan kau kibarkan atau kau tayangkan di medsos sebagai penanda simpatimu.



Kamis, 08 Oktober 2015

ADEGAN BASI DALAM FILM


Sering sekali kita melihat adegan klise ini, tapi kita tak merasa bosan. Kecuali jika kalian umurnya diatas 45 tahun. Masuk akal bukan, umur setua itu pasti seudah puluhan kali, mungkin ratusan kali, melihan adegan ini di film:

Adegan 1:
 si cowok mengorbankan  jaketnya untuk menyelimuti si cewek. Anehnya, di tempat dingin,  wanita si mahluk lemah, memakai baju setipis itu, dengan potongan you can see every thing.
Adegan 2 : 
(tanpa) sengaja Si Cowok tabrakan dengan si cewek. Salah satunya sedang membawa setumpuk buku-buku. Lalu keduanya bertatapan, dan adegan maupun cerita selanjutnya dapat kita tebak.
Adegan 3 :
Si cewek dan si cowok berdiri, berdesak-desakan  dalam bis umum, tetiba bisnya berhenti, hingga keduanya terjatuh. Adegan berikutnya pun dapat kita tebak.

Huufff, coba ya ada adegan pertemuan lain yang lebih menggigit. Seperti apa misalnya?
1.       Si cewek memperhatikan hidung cowoknya yang mancung, dan gemas melihat bulu hidung si cowok yang panjang. Nah, adegan selanjutnya coba kau kira-kira sendiri.
2.       Si cewek tabrakan dengan cowok bule, lalu terjadi adegan seperti ini:
Cewek : “Oh, Sorry sir.”
Cowok (bule) : “ I am sorry to.”
Cewek : “Sorry three.”
Cowok : “What for?”
Cewek : “Sorry five.”
Cowok : “Are you sick?”
Cewek : “No, I am seven.”

Menurutku, adegan romantic ini seperti ini,
Suaminya membersihkan kandang burung puyuh, lalu si istri menciumnya sambil berbisik, “makasih sayang.”

ADEGAN BASI DALAM FILM


Sering sekali kita melihat adegan klise ini, tapi kita tak merasa bosan. Kecuali jika kalian umurnya diatas 45 tahun. Masuk akal bukan, umur setua itu pasti seudah puluhan kali, mungkin ratusan kali, melihan adegan ini di film:

Adegan 1:
 si cowok mengorbankan  jaketnya untuk menyelimuti si cewek. Anehnya, di tempat dingin,  wanita si mahluk lemah, memakai baju setipis itu, dengan potongan you can see every thing.
Adegan 2 : 
(tanpa) sengaja Si Cowok tabrakan dengan si cewek. Salah satunya sedang membawa setumpuk buku-buku. Lalu keduanya bertatapan, dan adegan maupun cerita selanjutnya dapat kita tebak.
Adegan 3 :
Si cewek dan si cowok berdiri, berdesak-desakan  dalam bis umum, tetiba bisnya berhenti, hingga keduanya terjatuh. Adegan berikutnya pun dapat kita tebak.

Huufff, coba ya ada adegan pertemuan lain yang lebih menggigit. Seperti apa misalnya?
1.       Si cewek memperhatikan hidung cowoknya yang mancung, dan gemas melihat bulu hidung si cowok yang panjang. Nah, adegan selanjutnya coba kau kira-kira sendiri.
2.       Si cewek tabrakan dengan cowok bule, lalu terjadi adegan seperti ini:
Cewek : “Oh, Sorry sir.”
Cowok (bule) : “ I am sorry to.”
Cewek : “Sorry three.”
Cowok : “What for?”
Cewek : “Sorry five.”
Cowok : “Are you sick?”
Cewek : “No, I am seven.”

Menurutku, adegan romantic ini seperti ini,
Suaminya membersihkan kandang burung puyuh, lalu si istri menciumnya sambil berbisik, “makasih sayang.”

Selasa, 06 Oktober 2015

ADEGAN BASI DALAM FILM



Sering sekali kita melihat adegan klise ini, tapi kita tak merasa bosan. Kecuali jika kalian umurnya diatas 45 tahun. Masuk akal bukan, umur setua itu pasti seudah puluhan kali, mungkin ratusan kali, melihan adegan ini di film:
Adegan 1:
 si cowok mengorbankan  jaketnya untuk menyelimuti si cewek. Anehnya, di tempat dingin,  wanita si mahluk lemah, memakai baju setipis itu, dengan potongan you can see every thing.
Adegan 2 : 
(tanpa) sengaja Si Cowok tabrakan dengan si cewek. Salah satunya sedang membawa setumpuk buku-buku. Lalu keduanya bertatapan, dan adegan maupun cerita selanjutnya dapat kita tebak.
Adegan 3 :
Si cewek dan si cowok berdiri, berdesak-desakan  dalam bis umum, tetiba bisnya berhenti, hingga keduanya terjatuh. Adegan berikutnya pun dapat kita tebak.

Huufff, coba ya ada adegan pertemuan lain yang lebih menggigit. Seperti apa misalnya?
1.       Si cewek memperhatikan hidung cowoknya yang mancung, dan gemas melihat bulu hidung si cowok yang panjang. Nah, adegan selanjutnya coba kau kira-kira sendiri.
2.       Si cewek tabrakan dengan cowok bule, lalu terjadi adegan seperti ini:
Cewek : “Oh, Sorry sir.”
Cowok (bule) : “ I am sorry to.”
Cewek : “Sorry three.”
Cowok : “What for?”
Cewek : “Sorry five.”
Cowok : “Are you sick?”
Cewek : “No, I am seven.”

Menurutku, adegan romantic ini seperti ini,
Suaminya membersihkan kandang burung puyuh, lalu si istri menciumnya sambil berbisik, “makasih sayang.”




                

Sabtu, 22 Maret 2014

WC


Entah bagaimana sejarahnya, kata ‘Kamar kecil’ menjadi kata ‘sopan’ untuk WC, padahal kamar pas, ruang ATM, telepon umum (zaman dulu) pun memiliki ukuran yang kecil. Tapi memang sesuai fungsinya, semua harus dapat dibedakan bukan? Sekalipun ukuran dan interiornya nyaris sama.
 Kata  ‘ke belakang’ adalah kata sopan untuk izin ‘pipis’. Apa karena itu sesuatu yang berbau ‘belakang’ mempunyai konotasi ganjil? Seperti kalimat
‘siapakah tokoh dibelakang’? / Tokoh di belakang layar
‘Ada udang di ‘belakang’ batu’.
Kalau urusan mau lancar kau bisa mengurusnya di bagian belakang.
Puluhan PSK terjaring saat berkencan dengan para hidung belakang. (terlalu maksa, halag)

Maka rasanya jadi paslah bila kata ‘belakang’ diasosiasiakan dengan WC. Suatu tempat untuk membuang racun atau kotoran. Sebagaimana kata ‘belakang’ yang mengalami difersifikasi arti, WC-pun mengalami difersifikasi fungsi, seperti:
1.       Tempat yang dianggap anggap aman melakukan ‘perbulian’.
2.       Tempat menyimpan kunci jawaban saat UAN atau ulangan.
3.       Tempat menghukum anak sekolah. Biasanya anak-anak bandel itu dihukum diberi tugas membersihkan WC sekolah.
4.       Tempat anak sakau memenuhi kebutuhan setan dalam dirinya (narkoba)
5.       Tempat memadu kasih, tepatnya memuaskan nafsu sesat (modus pasangan ‘hemat’)
6.       Mengoreksi dandanan.

Karena fungsinya menjadi berubah tidak sesuai takdirnya, masuk akal saja jika banyak cerita seram/horror yang beredar di WC-WC. Kamu pikir setan-setan disana ikhlas atau baik-baik saja bila kenyamannannya di ganggu dengan adegan-adegan tak senonoh?


Konon jenis dedemit itu memfavoritkan tempat gelap, lembab, basah untuk berdiam. Pernah dengar cerita seorang gadis masuk WC di BIP sehabis midnite, dia memergoki seorang wanita sedang menjilati pembalut berdarah segar, dia menyeringai menengok kea rah si gadis. Memperlihatkan gigi dan mulutnya yang berlumuran darah. Memandang wajah si gadis yang sontak pucat pasi.

Translator: