Minggu, 19 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 25

PANGERAN. 10
HALLO!



10 Maret
Sebenarnya bila aku minta pada para ilmuwan itu,
Aku mau pesan pembuatan diriku seperti ini:
Pintar seperti seekor Kancil
Lincah seperti seekor Monyet
Cantik seperti Merak
Lucu seperti seekor Panda
Bijak seperti seekor Burung Hantu
Cerdik seperti seekor Rubah
Anggun seperti seekor Jerapah
Kuat seperti seekor Gajah
Memiliki keluarga seperti keluarga Lebah.
Seksi seperti seekor Cheetah
Tapi aku Cuma seperti ini
***

14 Maret
Sudah berapa lamakah aku lari? sehari? Seminggu? Sebulan?
            Pertanyaan bodoh! Karena percuma, aku waktu itu,  tidak tahu tentang waktu. apa itu hari, apa itu minggu, apa itu bulan. Yang aku tahu, pasti sudah lama sekali, karena aku harus melalui beberapa kali jadwal makan. Dan beberapa  kali aku mengklupas.
Hari hari  kulalui dengan ketakjuban pada dunia di luar Hutan buwatan.  Kini aku mengenakan ‘pakayan’.  Selembar jaket, dan celana panjang yang tadi aku tarik di salah satu tempat persembunyianku. Aku menatap kakiku. Seharusnya ada sepatu disana. Dan kepala ini seharusnya ditutup, agar orang-orang yang berpapasan denganku tidak melotot aneh bercampur takut saat melihatku. Jika penampilanku seperti itu, aku pasti hampir seperti manusia.
Kutatap tanpa kedip, lampu-lampu di kota memikatku. Lampu-lampu dijalan menghujankan cahaya di sepanjang keramaian. Gambar-gambar bergerak, itu pasti yang namanya iklan. Karena aku beberapa kali membaca pesan, harga, angka, dan gambar senyum ataw tawa pura-pura.
Yah, benar kata dokter Rut, dunia di luar hutan Buwatan sangat berbeda. Aku ingat lagi pesan-pesan dokter Rut:
‘Kau harus mengenakan pakayan, agar orang tak menganggapmu aneh ataw gila’
‘Kau harus –sopan-, ramah dan belajar mengendalikan laparmu. Dan yang  penting adalah kau harus bisa menahan keinginan makan serangga.’
‘karena begitu kau keluar dari sini, kau bagian dari mereka, kau harus belajar seperti mereka’
‘sekalipun itu menyiksamu’
‘jika kau tak bisa seperti –mereka- maka hutan buwatan lebih cocok untukmu’
‘tinggal kau pilih yang mana?’
Aku ingat jawabanku waktu itu:’Aku ingin ke luar. Melihat kehidupan luar.’
‘Bagus, maka, kmu harus belajar!’
‘karena belajar membuat otakmu berkembang lebih cepat.’
‘dan bila itu terjadi seperti keinginanku, tidak akan ada orang memperolok kita lagi.’
...
Semua pesan-pesan itu selalu aku hapal setiap hari. Entah kenapa. Pasti dokter Rut sudah memperhitungkan, bahwa swatu hari, dan hari itu adalah hari ini aku pasti bebas! Dokter Rut memang pintar! Mempersiapkan segala kemungkinannya.
Dokter Rut, aku berjanji, aku akan belajar. Lebih banyak. Lebih banyak lagi. Aku tak mau orang memperolokku. Seperti kemarin saat aku lapar dan mengambil buah-buahan di pinggir jalan, orang mengejarku dan meneriaku –maling-.  Tak bisa kubayangkan bila aku tak panday lari dan loncat, mereka pasti sudah menghabisiku. Menjadikanku bulan-bulanan. Mendapat hujan hinaan dan siksaan seperti yang pernah dokter Rut perlihatkan lewat alat TVnya yag kecil. Aku tahu, waktu itu dokter Rut memperlihatkannya kepadaku sacara rahasia. Ini pasti karena dia saying padaku, agar aku waspada bila ada di luar hutan buatan.
Aku diteriaki ‘maling’. Aku tak tahu salahku apa.
Dan besoknya aku mencari makan, aku di teriaki lagi –maling-. Aku di lempari lagi. Terpaksa hingga malam aku sembunyi, dan aku hanja melihat buah-buahan itu tergeletak saja tanpa ada yang mengambil. Memang kadang ada yang ambil, lalu orang itu memberikan –sesuatu- pada penjaga buahnya.
Dua hari ini aku mengamati buah-buahan ini, bila mereka lengah, aku ambil cepat-cepat karena aku tak mungkin menahan laparku terus, menerus.
Dan hari ini adalah hari  istimewaku, setelah hari bebasku.
Bgini dokter Rut ceritanya:
waktu tadi pagi aku –menjaga- buah-buahan itu, menunggu dan belajar semua yang berlangsung di depanku, dari tempat yang dokter sebut –observatorium-  (di atas sebuah bangunan yang pintunya selalu terkunci) aku melihat seorang anak kecil mengambil buah dan memberi sesuatu pada penjaga buah.
Oh  lucu.

Dia melihatku! Tapi aku tidak lari. Aku ingin tahu dia mau apa. Dan dia melihatku terus. Matanya indah sekali. Seperti mata KW3 yang bulat besar.  Lalu dari atas sini aku mengikuti mereka. Lalu  mereka masuk ke salah satu gedung.   Yang sering dokter Rut  sebut rumah susun. Lalu aku kehilangan mereka.


bersambung

Sabtu, 18 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 24

PUTRI. 9

SANG BINTANG




Ya aku sangat mengerti. Kubuka dompetku, dan kutambahkan beberapa kupon makan, kupon air, dan kupon listrik ke dalam satu amplop, juga kupon sosial. Serta sedikit uang yang ada di dompet.
            “Wanda, aku minta tolong, dengan serius, dan kontrak kerja yang jelas, tolong, gantikan aku di rumah dalam beberapa hari. Kau bisa berikan ini untuk ibu-bapakmu sebagai bukti kau ‘menghasilkan’.”
            “Kau membuat aku malu, Qon.”
            Ah! Dia pasti basa-basi. Ampun Tuhan, atas sinismeku ini.
            “Selama kau tidak mengingkari Tuhan dan cara kerjanya, kau tidak perlu malu.” Kusisipkan beberapa lembar uang, yang aku hitung, cukup untuk makan dia selama satu minggu.
            “Wanda, terima kasih sekali, hanya Tuhanlah yang mampu membayar semua kebaikanmu.”
            “Kau baru saja memberiku upah.”
            “Yah, supaya aku tidak terlalu malu karena membebanimu. Tolonglah, berikan semua ini untuk ibu Ratija. Katakan aku segera kembali, tapi entah kapan.”
            Ya, aku tidak tahu. Kenapa  urusannya menjadi seserius ini. Aku tidak tahu apakah ini musibah, ujian, atau anugerah, karena semua ini, menyebabkan aku akan tinggal di rumah ‘mewah’ pak Jan, pria yang membuat aku jatuh cinta,  untuk waktu yang aku tak tahu.
***

Bip!  Bunyi penanda mengobrolku diujung monitor, membuyarkan lamunanku tentang rumah, iklan, android, pak Jan.
            Pak Jan : Sudah malam, kau tak pulang?
Deg! Jantungku nyaris berhenti, ini alamat email bos besar.  pak Jan!  Hoi... sodara-sodara! Ini pak Jan menghubungiku! Melalui akun pribadiku!
Aku : maaf pak,  masih banyak yang harus aku kerjakan.
Pak Jan: Pulanglah! Kulihat kamu Cuma bengong-bengong-bingung.
            Wah! Pak Jan  memperhatikanku! Kulirik ruangannya yang terletak diatas ruanganku. Tertutup. Aku celingukan dan mataku terpana melihat kamera pengintai di sudut ruang ini.
Haaaa, tentu saja dia sedang mengamatiku dari kamera pengintai. Dasar curang! Berarti dia tadi melihat aku bermain ‘saat Berbie berpesta’  permainan termuktahir yang baru aku unduh itu. Pak Jan melihat permainan itu juga... ? Astaga!
Kutebak dia pasti mentertawakan aku,  melihatku celingukan.
Pak Jan: Kerjakan saja di rumah. Si Boy sudah menunggumu.
Hahaha, maksudmu, dirimu yang tak sabar menungguku? Kurasakan euphoria pasir di kepalaku. Dasar penghayal! Kutepuk dahiku beberapa kali agar semua pasir itu diam.
Aku: Maaf, silahkan bapak duluan. Saya belakangan. Saya akan pakai Kereta. Trims
Pak Jan : Jangan Bodoh! Kau sedang diincar, tidak bisa pulang, dan kamu ga bisa masuk rumahku tanpa tanganku.
Hooo tentu saja pintu berkunci sidik jari itu!
Pak Jan : Dan kamu tak bisa pulang membawa seransel penuh baju-dan berkas-berkasmu.
Hoooo... kenapa tak ada alasan aku menolaknya.
Pak Jan : Hallo...?
Aku : Ya, pak.  Saya  segera berangkat. Saya  tunggu di depan kios depan kantor.
Pak Jan : Ha?
Aku : Hmmm, masih banyak orang. Aku tak mau kejadian pagi, terulang lagi sekarang.
Pak Jan : Ha?
Aku : Jangan sampai *kebersamaan* kita menimbulkan gossip.  Kukirimin dia gambar emoticon takut, bingung, waspada.
Pak Jan : Ha! yayayaya... jangan samapai teman-temanmu mengira kamu pembantuku ya?
Aku : kukirim dia emoticon tinju.
Setelah ketikan terakhir terkirim aku menyesal, kenapa aku menjawab –bos besar- dengan aneka simbol tak jelas seperti itu sebagai wakil dari segala sumpah serapahku?
Aku segera membereskan semuanya yang berserak di mejaku. Gambar-gambar primitifku. Pinsil warna. Kumasukan ke dalam laci. Kumatikan komputerku, laptopku. Memberekannya semua. Tapi aku tak melihat pak Jan ke luar dari ruangannya. Kurasa pak Jan pasti ke luar setelah melihatku berangkat, dia akan tahu melalui kamera pengintainya.
            Bip! Penyerentaku berbunyi. Ibu Ratija.  Aku menerimanya sambil berjalan.
            “Assalamualaikum. Kamu sudah di mana, Qon?”
            “Waalaikum salam, bu. Aku masih di kantor.” Aku sangat berharap dia menjawab ini: ‘Pulanglah! Semua sudah aman.’ Tapi kemudian aku hanya mendengar suaranya yang parau, lemah, dan khawatir.
            “Jangan pulang!” seperti biasa, pendengaran ibu Ratija terganggu.
“Kata Wanda, kamu ada dalam bahaya serius. Komplotan yang mencarimu adalah komplotan Kupu-kupu! Itulah kenapa aku mengirimkan baju-bajumu lewat Wanda.”
            Suara bu Ratija berbisik cemas. Jadi benar gang yang mencariku adalah gang Kupu-kupu? Gangster yang dikenal karena ‘rekanan-nya’ hanya dari golongan elit tertentu saja. Satu-satunya gangster yang menjalin hubungan dengan lembaga intelejen Negara. Tapi juga ganster yang paling rapi dalam menjalankan manajemen kapital ilegalnya.
            Menurutku, lembaga yang paling lengkap sumberdayanya adalah mafia semacam ini. Kau bisa menemukan seorang ilmuwan sain, sosiolog, politisi, sampai paranormal didalam daftar rahasia keanggotaanya.
Jadi sesuatu yang serius sedang terjadi. Hooooooo... jadi aku harus lari ke mana?
            “Hallo… hallo.. Qon?” suara ibu dengan volume mengeras membangunkan alam jedaku.
            “Tidak ada pilihan lain, mungkin kau harus menginap lagi di rumah bosmu. Bisakah ibu meminta nomor penyerentanya?”
            Kuketikan nomor smartphone pak Jan.
            “Ya, sudah.” Bip, aku dengar panggilan lain. Pak Jan.
            “Oh, Bu, maaf ada panggilan dari bos, nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum”
            Sambungan pada ibu Ratija aku matikan. Aku tahu percuma bercakap dengan dia seperti ini. Sering terjadi salah sambung karena pendengarannya yang kurang.
“Qon... Dimana? Aku sudah di depan kios!” suara pak Jan terdengar.
            “Oh ya... Saya baru lewat halte.” Aku bisa melihat mobil van mewahnya.
            “Oh... ya. Hai Qon... Qon...! Awas...!”
            “Apa...? “ Hhhmmpphh’ tiba-tiba saja seseorang menarikku dari belakang. Lengan besarnya membekapku dengan saputangan secara  paksa, sementara tangan kekar kanannya yang lain memeluk perutku dengan keras.
            Bau formalin merasuk masuk hidungku. Aku bisa  melihat lengannya yang melingkar diperutku bertatto kupu-kupu. Perlahan aku lihat tattoo Kupu-kupunya lepas. Lalu kupu-kupunya terbang menari indah.  Tapi benarkah kupu-kupunya bisa terbang? Ini pasti permainan pasir di otakku, atau bau formalin yang menyita kesadaranku?  Seluruh pandangannya bergoyang.  Lalu gelap.

***

Bersambung....

Kamis, 16 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 23


Putri. 9
SANG BINTANG




Oh wangsit! Turunlah! taburkan pasir dikepalaku ini dengan semesta inspirasi. “Qon?”


“Hmmm, pertama-tama kita akan membayar seorang dokter  spesialis perkembangan anak. Dia akan mengamati perkembangan anak dari sisi fisik dan jiwa. Jadi kita akan melihat perbedaan sebelum dan sesudah ‘pengasuhan’ seorang Android yang dilengkapi ASI refill.”
“Akan lama Qon, kita butuh sesuatu yang cepat dan cepat jadi uang. Dan kita bisa cepat berburu iklan baru lagi.” Suara Kamila sengau
“Biasanya kontrak iklan berlangsung berapa lama?” tanyaku entah pada siapa.
“enam bulan? Setahun?” jawab Maria.
“Jangan sampai kita buang-buang energi untuk satu iklan saja.” Suara Kamila dengan intonasi meninggi.
“Kalo jadi iklan berkontrak lama, Kita bisa bikin iklan series.” Usulku.
“Bisa untuk tumpangan iklan layanan masyarakat tentang kesehatan. Rekanan pasti suka.” Aku mendengar suaraku bersemangat.
“Akan banyak biaya, sementara kita tak bisa melayani rekanan lain yang mengantri yang jelas-jelas cukup kita buatkan dengan metode atau teknik yang sederhana.” Suara Kamila bias.
“Atau layanan tips pengasuhan...” pak Rudi menyahuti.
“Yang dibawakan oleh seorang android!” ditimpahi Maria.
“GILA!” jelas Kamila tidak tahan dengan kegairahan satu arus di meja ini.
Semuaa menengok ke arahnya.
“Oke, siapa yang merasa waras silahkan ke luar ruangan.” Bos Willy seperti biasa, menjadi bom di puncak acara.
Semua diam.
Tanpa ragu Kamila berdiri, mengangguk sedikit hormat kepada bu Kim dan pak Jan, lalu berjalan ke luar ruanngan. Aku salut atas sikap terus terangnya.
“Oke, kalau begitu, teruskan keributan kalian, kami ada urusan yang lebih penting. Mari pak Jan, Rudi!”
Rudi segera bangkit membukakan pintu untuk pak Jan dan bu Kim dengan sikap penuh hormat. Ketiganya meninggalkan kegaduhan ruang rapat. Aku menatap pintu tertutup itu dengan perasaan tak menentu. Nanti sore atau malam aku akan pulang ke rumah orang itu (pak Jan)lagi?!
***
           
Aku semakin bergairah mengerjakan iklan ASI refill.  Apalagi bila mengingat ini semua untuk kesejahteraan Rahman dan Rahim. Jadi bila rekanan akan setuju dengan konsepku, maka beban ibu Ratija akan ringan dalam mengurus Rahman Rahim, karena hibah android itu, dapat mangasuh si kembar sekaligus menyusuinya.
            Ya, produsen ASI refill itu harus mau menyediakan seorang androiid untuk meringankan kerepotan ibu Ratija. Jadi Ibu Ratija tak akan sakit dan kelelahan lagi.
            Oke jadi seperti apa proposal provokasi itu? Proposal yang akan membuat rekanan tidak akan menolak keinginan kami. Seharusnya Kamila telah mengirimkan contoh proposal rayuan itu kemarin. Tapi kita sekarang tahu kan, seperti apa Kamila itu?
            Aku harus bisa mandiri! Tunjukan bahwa kamu bisa! Jangan buat malu pak Jan. kalo bisa buat pak Jan jatuh hati karena proposal provokasi itu.
            Kamu pikir mustahil? Aku kira ‘keyakinan doa kita, doa ibu Ratija, dan usaha, cukup menjadi kombinasi keberuntungan’. Aku bersemangat di tengah badai pasir otakku yang tak jua mencetuskan inspirasi apapun.
            Proposal provokasi itu apa? Proposal yang membuat pak Jan takluk padaku. Ya Tuhan, ijinkan hati ini diisi oleh selain dariMu.
            “Qon, ada orang cari kamu.” Kamila muncul diatas dinding pemisah  meja kami. Melihat Kamila tiba-tiba muncul dibelakangku, aku segera mematikan dan keluar dari komputerku. Aku tak ingin lagi kecuriaan ide hanya gara-gara lupa log out dari komputerku. Apalagi aku baru saja mendapat ‘proyek hebat’. Aku tak boleh  terkena sabotase. Kita harus selalu waspada bukan? 
            “Siapa?”
            “Entahlah, orangnya semacam kamulah. Kampungan.” Suara Kamila kini terdengar lebih natural. Sinis, mengejek.
            “Oh, itu mungkin...” aku cepat menutup mulut. Itu pasti Wanda, gadis  suruhan ibu Ratija. Kalau dibilang kampungan, Wanda lebih nampak norak dan kumuh dibandingkan aku. Maklum, sejak kecil dia lebih merana dan tak terurus dibanding aku dan adik-adikku. Ibu pasti mengirimi aku baju, agar aku tak pulang sementara ke rumah.
***

Saat pintu lift terbuka, mataku langsung menangkap sosok Wanda yang berdiri lusuh di tengah interior modern dan mewah,  Lobi kantor.
            “Qon!” wajahnya terlihat cerah melihatku berlari ke arahnya.
            “Bagaimana ibu Ratija dan anak-anak?” aku langsung menggandengnya untuk duduk di tempat yang tersembunyi. Bukan karena aku malu orang selusuh Wanda menemuiku, tapi karena aku merasa tak enak dia datang di jam sibukku. Begitu kami duduk, kukeluarkan 2 kotak jus buah. Tanpa ditawarkan, dengan cepat Wanda langsung menyambarnya, satu.
            “Mereka mengkhawatirkanmu. Orang-orang membicarakanmu. Sebenarnya ada apa Qon?” tanyanya sambil menyeruput minumannya. Wanda mulai berkecap-kecap kenikmatan.
“Menurutku kau belum aman untuk pulang. Orang-orang pun bilang begitu. Jika kau pulang beberapa rumah susun di sana terancam kacau lagi.” Katanya diselang seruputan lagi.
            “Wah Seserius itu? Bagaimana mungkin?”
            “Aku tak tahu, sepenting apa dirimu, hingga kau dicari para preman dari kelompok  bertatto Kupu-kupu.  Beberapa rumah dimasuki preman bertatto Kupu-kupu. Keadaan menjadi mencekam.”
            “Oh? Preman bertatto Kupu-kupu? Apa hubungannya denganku?”
            “Itu yang ingin aku tanyakan, bodoh!” katanya dengan mata melotot padaku seolah aku telah berbuat salah padanya.
            “Aku tak tahu apa salahku, Wanda.”

            “Carilah jawabnya! Agar kami tahu! Oke? aku tak bisa lama. Hmm kata ibu Ratija, aku bisa minta ongkos ‘kurir’nya padamu. “ Wanda tersenyum kaku. Haha, mana mungkin mengharapkan sahutannya seperti ini: ‘Cari jawabnya, agar kami tahu cara menolongmu!’




BERSAMBUNG.....

Rabu, 15 Juni 2016

TELELOVE bagian 22

Putri. 9
SANG BINTANG





 Riuh rendah suara kacau yang berseliweran di kepalaku berhenti. Seperti biasa, aku mengalami serangan dilusi. Suara ribut itu hilang begitu aku membaca email pertamaku dari Kamila. CC pak Jan dan bu Kim pula.
 Ini baru NYATA:
            ‘Tolong konsep iklannya dikirim ke bos besar. SEKARANG!’



Senyata degup jantungku. Kamila ini bagaimana? Katanya konsep detilnya besok. Sekalian membicarakan masalah audisi.
            Belum sempat aku mengetik sehurufpun, pintu ruang bu Kim terbuka.
            “Rapat sodara-sodara, untuk tim produksi, lima menit lagi.ada perkembangan baru dari bos besar. Jangan telat!” Terdengar suara bu Kim menggema di ruangan. Memecah alunan musik terapi.
            Teman-teman dari grupku segera beranjak dari mejanya, membawa note booknya masing-masing. Aku memandang pergerakan yang cepat itu. Pergerakan yang tak ingin menungguku.
            As-ta-ga.
            Rapat dimana konsep detilku akan dijadikan bahan?
            No-n-no-n-no. mati aku.
            Tuhan, sebenarnya Kau siapkan berapa kali keberuntungan untukku di kantor ini? Kulirik Kamila yang memasang wajah  datar. Dia pasti tahu aku grogi.
            “Oke, kita langsung saja. Qon, ada yang akan kau sampaikan tentang konsep detil iklan ASI refill kemarin?” Tanya pak Rudi. Seniorku di grup. Ruang rapat ini sepertinya menjadi ruang eksekusi bagiku. Aku seolah duduk di kursi listrik yang siap kapan saja menerima ribuan watt daya untuk membuat aku mati.
            Aku menggeleng lemas. Ya, aku akan dipecat. Karena seisi kantor ini seudah tahu bahwa akulah yang ditugasi membuat detil konsepnya.
            “Hallo, selamat pagi semua.” Pak Jan tersenyum.
            “Kita akan ajukan bayi kembar dari rumah yatim piatu sebagai modelnya. Kita akan ‘menodong’ rekanan kita untuk melakukan uji coba lapangan terhadap bayi itu.” Suara pak Jan terdengar bergairah. Dia membuka rapat ini begitu saja? Dia melihat ke arahku.
Ah jangan-jangan aku salah mendengar. Aku harus tahu diri, karena otak pasirku sering membuat aku terkecoh dengan dunia nyata. Pak Jan pasti sedang berusaha memancing ideku.
“Apa tidak terlalu berlebihan? dan maaf sebenarnya, bukankah ini semestinya pekerjaan tim produksi? Bukankah banyak pekerjaan bapak yang lebih besar lagi yang harus bapak tangani? Bukan bergabung dengan tim produksi?” suara bu Kim pun terdengar  bimbang.
“Yah, anggap saja aku hanya ‘mampir’ di tim ini.” Jawab pak Jan tenang.
“Bagaimana kami menjelaskan pada rekanan, pak?” Tanya pak Rudi mengulang.
“Meminta android untuk ‘anak yang tak jelas asal usulnya’?” tanya  Kamila sambil  melirikku. Aku tahu apa maksudnya, tapi  aku sudah kebal dengan topik ‘tak jelas asal-usul’ini.
 “Jika rekanan diminta seperti itu, kita bisa kalah dengan pesaing kita yang bisa menekan biaya produksi.” Pak Rudi terdengar pesimis.
 “Apa tidak merusak citra produk? ASI refill ‘hanya’ cocok untuk anak haram.” Kamila masih tetap dengan pendapatnya. Aku tahu siapa yang dimaksud ‘anak haram’ itu. Aku semakin tahu, bahwa dia tidak suka padaku, entah kenapa.
            Sangat berbeda dengan sebulan lalu, saat aku baru bergabung di sini.
“Tidak, jangan khawatir, sesuai dengan semboyan kita yang baru, yaitu ‘memberikan citra kebaikan dengan kebaikan’.” Bu Kim menengok kearah pak Jan dengan ragu. Aku lihat dahi lebar bu Kim memantulkan sinar lampu. Bisa jadi otak bekunya mencair gara-gara sorotan sinar ini. Dia sepertinya menangkap wangsit.
“Wow!” Anita berdecak setuju.
“Keren!” Maria menepukan tangan.
Seputar meja bergairah. Pak Jan tersenyum puas.
“Kita tidak perlu audisi, Qonita akan menerangkan detilnya –sekarang-.” Pak Jan melihat ke arahku.
Alamak! Kenapa harus sekarang? Di meja ini pula?
Oh wangsit turunlah! Turunlah....! doa panik  pun menghujan otak pasirku.
“Tunjukan saja si kembar yang ada dirumahmu!” pinta pak Jan. Oh! Aku mengerti, dia pasti memancing inspirasiku.
Aku lalu meletakan telpon genggamku di meja setelah  mengatur tabel menunya. Mengarahkan sinarnya dari atas meja. Hingga seputar meja ini bisa melihat proyeksi tiga dimensi dari telpon genggam  mungilku.
 Video si kembar Rahman Rahim. Adegan waktu mereka baru tiba, tangis pertama mereka di rumah kami yang heboh, keseharian mereka. Mandi dan berguling-guling. Berganti-ganti pengasuh. Gigi pertama...
Ah baru semalam aku meninggalkan mereka, tapi aku begitu kangen.
“Aiiih, lucu sekali.” Anita terlihat  gemas.
Aku tersenyum bangga.
“Orang tua gila mana  yang tega membuang anak selucu setampan itu?” Maria  menyahuti dari seberang.
“Siapa tahu bila melihat anak mereka menjadi bintang iklan, mereka akan datang mengambil lagi.” Gumam bu Kim.
“Bisakah kita menjadi agen langsung bayi kembarnya, Qon?” Tanya pak Rudi bergairah. “Pasti itu lebih menguntungkan.”
“Ya, bisa buat iklan makanan bayi, kosmetik bayi, popok bayi, mainan bayi.” Tambah Maria sambil bertepuk-tepuk tangan tanda dia dalam keadaan semangat.
Deg! Betul juga, iklan ini akan membuat orang tuanya mengambil dia. Atau menarik perhatian orang untuk mengadopsinya? Lalu rumah kami tak kan seceria waktu ada bayi kembar ini. Haruskah aku bersyukur jika itu terjadi?
“Ok, cukup-cukup... jadi mau kita apakan bayi ini?” tanya Kamila mulai dengan nada sumbang.

Oh wangsit! Turunlah! taburkan pasir dikepalaku ini dengan semesta inspirasi. “Qon?”



BERSAMBUNG.....

TELELOVE 21

Putri. 9
SANG BINTANG



Cahaya bintang di angkasa dan cahaya kunang-kunang
 di depan mata apalah bedanya?


“Kita hampir sampai. Pak.” terdengar suara kaku Boy si  android dari balik kemudi membangunkanku. Tanpa kusadari aku tertidur dan bersandar pada pak Jan. setelah malam yang melelahkan dan sarapan yang mengahangatkan perut. Terayun-ayun di mobil, suhu yang nyaman, aroma parfum pak Jan, suara music terapi, bagian mana yang patut disalahkan bila aku jadi tertidur?
“Ma… maaf pak..” tentu saja aku salah tingkah tak karuan. Pasir diotakku rupanya segera gaduh setelah ikut tertidur. Hebatnya mereka begitu kompak koor ‘malu… maluuu… maluu… maluuu...” kurasakan hangat wajahku. Bisa dipastikan aku merona malu. Aku beriingsut duduk membuat jarak. Kulihat pak Jan tersenyum maklum.
 “Jangan! jangan parkir dulu, jangan sampai ada orang di kantor ini melihat kita datang bersamaan.” Suaraku terdengar menguik panik.
Pak Jan menengok ke arahku, alisnya mengangkat tanda ‘kenapa’, aku tahu bahasa tubuh dan mimiknya, karena aku biasa bergaul dengan ABK[1] di rumah.
“Kita harus menjaga imej, agar mereka tetap berpikiran positif, bukan?” kataku mencari kalimat yang tepat.
Pak Jan mengangguk mengerti.
“Jangan sampai citra bapak rusak gara-gara saya...” kataku canggung.
“Oh, siapa yang pedulikan ini? Zaman gila ini, Orang pulang pergi, entah teman atau pasutri, atau pasangan selingkuhan, bahkan pasangan homo, siapa peduli?”
“Saya! Saya takut akan fitnah.” Oh... Fitnah yang manis, kita disini seperti pasangan kekasih. Pasir diotakku mulai berdesir, menerjemahkan bahasa syetan. Karena jatuh cinta padanya, mungkin jenis cinta buta, dalam waktu semalam aku menjadi seorang munafik.
“Oh? Kamu takut orang memfitnahmu, kita sebagai ‘pasangan’... hahahaha.”
Tawa pak Jan membuatku merasa –agak- terhina.  Yeah walau tawanya ‘nyata, waras, wajar, masuk akal’.
“Bukan pak, saya takut, mereka memfitnah, sekarang saya  sudah menjadi pembantu baru di apartemen bapak.”
“Oooooh... kau ini! Berarti bukan citraku sebenarnya yang kamu khawatirkan. Tapi citra kamu.”
Aku mau bilang apa, dalam semalam, dia nyaris pandai membaca pikiranku.
Aku lirik wajah manyunku. Ho-oh, mana mungkin wajah yang mancung di bibir dan jidatnya ini bersanding dengan mahluk berkelas seperti pak Jan.
 “Baiklah, terserah kamu. Boy turunkan Qonita  di luar area kantor ini.” Pak Jan mengangkat dagunya. Android yang menyupir itu mengangguk mengerti.
“Oke bos.”
“Yayayaya itu lebih baik.”
Tapi terlambat, Saat mobil ini bergerak memutar, nyaris menabrak seorang gadis dengan bawaan barang-barang terjatuh gara-gara haknya patah.
Gadis itu Kamila. Kamila  melihat aku duduk di samping pak Jan.
Lalu entah syetan nomor berapa yang memberikan komando padaku: ‘tersenyumlah yang anggun, perlihatkan kau sebagai wanita yang ‘bahagia’.
Sepintas, aku bisa melihat seriangai iblisku lewat spion.
“Ups, Kita sudah terlambat.” Pak Jan tersenyum manis padaku. Aku rasa syetannya sedang berkonspirasi dengan syetanku menyuruh kami tersenyum ‘seperti’  pasangan bahagia. “Biarkan kami turun bersama di plaza, Boy.”
“Oke bos.” Suara si Boy bernada robot. Oh Boy, andai kau tahu kacaunya diriku, apa kau  tadi melihat seringai iblisku, bukan tawa bahagia.
“Tak usah khawatir, temanmu itu tak bisa melihat kita. Kaca mobil ini tak tembus pandang.” Pak Jan pasti sedang melihatku seperti seorang gadis bodoh.
***

Maka saat aku memasuki ruang kerja, aku telah bersiap melihat atau mendengar olok-olok dari teman-temanku.
            Tapi yang kuhadapi –ternyata- semua sibuk seperti biasa. Tak ada sahutan suitan, atau siulan godaan sebagaimana perkiraanku.  Yah tentu saja, aku kan di lingkungan orang dewasa. Bukan di lingkungan remaja tidak stabil.
Aku lihat Kamila pun nampak tenang. Syukurlah, ternyata Tuhan masih menyelamatkan aku dari bahaya fitnah, walaupun menurutku fitnahnya terdengar manis.
            ‘waaaa, anak bawang kita datang dengan bos besar! ‘
            ‘ Pasti telah terjadi sesuatu yang –manis-’
            ‘Taruhan, kau bermalam di tempatnya?’
            ‘Kok tahu?’
            ‘Bajunya, itu kan kostum –rumah-’
            ‘emang dia tiap hari penampilannya begitu.’
            ‘wah kalo gitu semalam -sesuatu yang gila- telah terjadi’
            ‘Alamak bagaimana mungkin si Nongnong itu menggoda lelaki berkelas?’
            ‘Justru pusat -kesaktian peletnya- ada di nongnongnya.’
            ‘Wah dukun mana yang bisa implant susuk plus silikon di jidat?’
            TAP! Riuh rendah suara kacau yang berseliweran di kepalaku berhenti. Seperti biasa, aku mengalami serangan dilusi. Suara ribut itu hilang begitu aku membaca email pertamaku dari Kamila. CC pak Jan dan bu Kim pula.
 Ini baru NYATA:
            ‘Tolong konsep iklannya dikirim ke bos besar. SEKARANG!’




BERSAMBUNG



[1] ABK = anak berkebutuhan khusus.

Translator: