Kamis, 28 Maret 2013

Mak Recok, Kapan Anak Dikenalkan Dengan Uang?



Aku masih mengingatnya, sangat,  tentang doktrin ibuku: ‘tugasmu-Cuma-belajar!’ maka sebagai anak yang berbakti, setidaknya aku ingin –nampak- berbakti, kuturutilah perkataannya. Walau pada kenyataannya, tentu saja sebagai anak yang ‘manis’ aktivitasku bukan Cuma belajar.
               
 Entah bagaimana mulanya, aku merasa bertetangga dengan tetangga yang berhalaman luas, memiliki aneka pohon buah menjadi sebuah anugrah. Di saat jambu,  belimbing, ceremai, berbuah, tanpa sunkan (tak tahu malu) aku yang saat itu kelas 2-5 SD itu memintanya. Lalu dengan gairah dan kegembiraan kanak-kanak, kupanjati poho,-pohonya. Kupetiki buah-buahnya yang matang. Keesokan harinya, aku bawa ‘panen kecilku ini’ ke SD, dan menjualnya di kelas. Tanpa malu.
             
   Bukan Cuma itu, saat lebaran usai, aku menjual kue sagon, kakaren ibuku kepada teman-teman
(sekali lagi) SDku. Kukatakan pada ibuku setiap kali mengambil kue dalam jumlah banyak: Teman-temanku suka bu! Redaksi  ‘aku akan menjualnya’  hanya aku batin saja. Karena aku tahu, ibu tidak akan senang dengan semua kegiatan –menjual-  ini.  Aku punya anggapan, dia akan malu kalau tahu anaknya jualan, apalagi pake cara ‘minta buah tetangga’.
                Aku sudah menyiapkan dalil kesetaraan gender, kenapa masku boleh jual Koran bekas ke pasar, sedang aku tidak. Syukurlah, semua itu tak terjadi, dia bahkan tertawa-tawa saat mengetahuinya.
                Bak Mangga jatuh tak jauh dari pohonnya, setidaknya  begitulah yang aku inginkan pada anak-anakku. Aku mencoba mengenalkan jiwa wirausaha sedini  mungkin, apalagi aku, si wanita ‘mudah terpengaruh’ ini sangat setuju saat Rhenal Kasali, menghembus-hembuskan pendidikan wira usaha di usia muda.  Acara Young On The Top, Kick Andi pun seolah mengesahkan anggapan itu semua.
                Saat gaira pendidikan wirausaha dihembuskan, anakku sudah menjalaninya beberapa tahun laun, saat SD. Putri pertamakumenjualkan kue tetangga kami, karena anak si tukang kue itu ‘malu’ untuk menjajakannya, begitu juga dengan putri ke 2, menjual kue, ATK,  hinggal Wall paper. Dan anak ketigaku menjual asesoris gadis, walau gagal pada akhirnya.
               
 Yang menggembirakan adalah anak bungsu kami, yang meniru kakak-kakaknya, dia membawa pinsil ke sekolahnya, menjualnya, dan mentraktir temannya dari hasil jualannya.  Karena kami mentertawakan, dia kapok untuk melakukannya lagi. Jualan bagi dia cukup sekali saja.
            
    Walau secara financial anak-anakku, dan aku saat SD dulu, tidak banyak mendapat keuntungan, tapi dari sanalah, kami belajar bagaimana menaklukan rasa malu, dan gengsi dalam berdagang. Maklum, untuk sebagian orang, terlebih untuk masyarakat priyayi, angkatan yang merasa, bahwa berdagang itu menempati kelas ‘biasa’.
              
  Tapi itukan jaman ibuku dan masyarakat dijamannya. Pandangan itupun mulai bergeser.
              
  Sangat bergeser, hingga kutemui  fenomena mahasiswa cari duit lupa sekolah. Tertawa gelilah aku saat membaca ada mahasiswa FSRD ITB di era 90an yang lebih sibuk mencari uang dibanding hadir di ruang kuliah, hingga usahanya diberi nama *Absenin*.
                 
Maka jadilah dilema pada bagan : Kuliah atau cari uang. Atau  Kuliah sambil cari uang dengan nilai paspasan keuntungan paspasan.
                 
Semuanya, menurutku, sah-sah saja bukan, karena bagaimanapun semuanya memiliki nilai untuk sebuah pelajaran-pengalaman. Yang merugi itu tentu saja orang yang tidak kuliah, dan tidak melakukan usaha apa-apa.

Tidak ada komentar:

Translator: