Jumat, 28 Oktober 2016

TELELOVE 89

PUTRI 28


PANGERAN




“Aku tak percaya! Dia yang membuatmu seperti ini.”
            “Dia yang membuat ‘otakku’ berbeda dengan manusia buatan lainnya. Tuhanlah yang menemukan cara revolusi berpikirnya melalui ibu Ratija dan sembilan adik-adikmu.”
            “Aku tak mengerti. Lalu pak Jan? apa hubungannya?” maksudku: aku sangat menyesal telah menyuruhnya meminum urineku!
            “Dia meyakini, bahwa kepandaianku terletak pada DNA yang bisa aku wariskan. Dia tak percaya, bahwa dokter Rut dan teman-temannya hanya mengotak-ngatik bagian protein otak saja.”
            “Aku tak mengerti.” Anehnya, pasir di otakku tak membadai bingung seperti biasanya bila mendapatkan materi yang sulit dicerna oleh otak.
            “Kau tahu, otak terdiri dari ribuan  sel otak yang dihubungkan oleh sel-sel saraf. Kecepatan kita berpikir ditentukan oleh cara bagaimana sel-sel saraf ini merespon. Jika diibaratkan informasi yang masuk ke otak adalah mobil-mobil, maka terlalu banyak informasi yang masuk, bisa saja terjadi kemacetan. Akhirnya informasi yang masuk, yang seharusnya direspon dengan cepat, akan menjadi sia-sia.”
            Sebentar dia menunjukan gambar skemanya di layar penyerentan. Jari-jarinya menari- menggambarkan skema sel syaraf yang saling terhubung. Aku sedikit mengerti. Aku hanya mengangguk.
            “Dokter Rut memberikan ide, membuat jalan layangnya! Hingga semua informasi yang diterima bisa direspon dengan baik.”
            “Hah...? ba-bagaimana caranya? Dia melakukannya padamu?” oh aku sungguh sangat menyesal telah menuduhnya penjahat, dan menghukumnya dengan jus apel bohongan itu.
            “Tapi selain itu saat peta genetisku diidentifikasi, ternyata, hal yang sama terjadi pada kromosomku.”
            “A-apa?”
            “kita selalu tak tahu cara kerja Tuhan, bukan?”
            “Jadi  pak Jan menginginkan anakmu?”
            “Cara judi yang bodoh, mengingat pemilihan ibu yang tak jelas.”
            “Kau?” aku menggigit bibir. Rasa tak enakku cepat menjadi tawar saat melihat seringainya. Yusuf menggodaku!
            “Qonita, kau dan aku bukankah sama tak jelasnya? Tak ada teori yang bisa membuktikan dari ibu A dan bapak B akan menjadi anak yang AB.”
            Aku diam. Rasanya sulit dipercaya bahwa aku sedang berdiskusi dengan mantan  manusia buatan penghuni hutan buatan yang dulu bisu, primitif, dan mungkin super tolol.
            “Maksudmu?”
            “Anak kita bisa jadi apa saja. Itu semua tergantung dari bagaimana kita membesarkannya, mendidiknya, dan memberinya banyak kasih sayang.”
            “Ki-ta?” telunjukku menujuk padaku lalu padanya.
            “Hahahaha... kita! Setelah kau melahirkan, kita baru akan menikah secara resmi.”
            “Apa?”
            “Aku tahu syariatnya. Apa kau punya pilihan lain? Seseorang setampan Jan?”
            “Tidak!” cepat sekali aku menjawabnya.
            “Oh! Kau tak perlu berteriak, kita sedang sembunyi... ssssttt..”
            “Sampai kapan kita sembunyi?”
            “Setengah jam saja. Sampai polisi negara mengamankan tempat itu. dan siapkan dirimu untuk melakukan jumpa pers.”
            “Haaaah?”
            “Aku telah mengirimkan semua file rahasia riset unggulan B-Go ke LPKEI, Lembaga Pertimbangan Kode Etik Intelektual. Lembaga yang menjaga riset-riset yang sensitif terhadap permasalahan social,  kemanusiaan dan agama. Seperti yng dilakukan oleh B-Go.”
            “Ba-bagaimana caranya?” aku masih tak percaya semua berlangsung sangat cepat.
            “Dengan ini.”  Yusuf menunjukan telpon genggamnya. “Seperti kau melakukan pengiriman konsepmu, sampai gambar, data hasil survei ke komputer perusahaanmu.”
            “Semudah itu? bukankah kau harus mengetahui kata sandinya.”
            “Karena dokter Rutlah, aku bisa memecahkan kata sandinya.” Dia mengetuk kepalanya.
            Oh! Astagfiruloh, ampun Tuhan, aku sangat jahat pada seorang lelaki tua yang ‘merancang’ ayah anakku.
            “Haloooo? Ada orang di dalam?” tiba-tiba seseorang memanggil kami di mulut gua tempat kami bersembunyi.
            “Oh, Qonita, mereka memanggil kita.” Yusuf bangkit dan menarikku berdiri. Dia terus menggenggam tanganku. Ada perasaan aman, dan tenang digenggam tangan bersisik seperti ini.
            “Bagaimana kau yakin mereka adalah penolong kita.” Bisikku.
            “Mereka menemukan kita karena aku memberi peta rahasia lewat satelit rahasia mereka.”
            “Pak Yusuf? Syukurlah, kepala Keamanan Negara  langsung menjemput anda di sini.” seseorang memanggil namanya dengan nada ‘hormat’. Bukan nada meleceh seperti biasanya yang kaum manusia buatan dapatkan.
            “Qonita, kita harus bersiap diri untuk jumpa pers, hanya siaran inilah yang akan membuat ibu Ratija, dan adik-adik kita tidak cemas lagi, tapi ini menjadi gembira, dan bahagia.” Bisiknya penuh keyakinan.
            “Oh?”
            Kurasakan genggaman tangan Yusuf bertambah erat dan hangat.
***

           
             
           

 BERSAMBUNG

Kamis, 27 Oktober 2016

TELELOVE 87

PUTRI. 28
PANGERANKU!






.”Qonita!” terdengar seseorang memanggilku dari bawah. Aku bisa melihatnya, sekalipun dia mengenakan baju over all seragam karyawan di sini, tapi aku  dapat mengenalinya.
            “Yusuf? Kaukah itu? Yusuf!” kataku. Syukurlah, aku sangat gembira melihatnya. Sejenak aku lupa kami dalam situasi kekacauan.
            “Qonita! Turunlah!” teriak Yusuf.  Gesit sekali Yusuf  mengejar kami. Menggapai batang demi batang.
            “Pak Jan, tunggulah! Yusuf datang untuk menolongku.” Kataku di telinga pak Jan.
            “Jangan bodoh Qon, dia itu salah satu kaki tangan dokter Rut, dia sedang ‘mengejarmu’.” Pak Jan bicara disela tarikan nafasnya yang payah.
Pak Jan kini  mempercepat geraknya.
“Bagaimana mungkin? Kalau dia mau dia bisa menculikku kapan saja, karena dia tahu tempat sembunyiku selama ini.” Aku tentu saja tidak percaya, setelah semua file kebaikan dan kemalangan Yusuf  terpatri di otakku.
“Jangan bodoh Qon, tentu saja dia tak akan menculikmu! Karena selama ini kau selalu bersama si Boy.”
“Pak Jan, Apakah  manusia buatan  semacam Yusuf tak dapat mengalahkan si Boy?”
“Tentu saja. Qon”
“Jadi dimana si Boy sekarang? Bukankah ini semua tugas si Boy, pak Jan?”
“Dia ada dibalik kemudi helikopter itu, Qon. Kita pasti selamat.”
Kutengok Yusuf yang terpaut jarak beberapa batang pohon di bawah kami. Begitu gigihnya Yusuf bergerak mendekati kami. Kutengok lantai panggung diatasku. 
             “Qonita... turunlah, jauhilah Jan, dia akan mengambil anakmu, DEMI NAPSUNYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN!” teriak Yusuf  sambil tetap bergerak.
            “Yusuf... kau tahu aku hamil?” Oh Tuhan! Jadi benar dia anak buah dokter Rut yang mengincar janinku.
            “Ya, dan banyak orang yang berkepentingan dengan janinmu, Qonita.” Jawab Yusuf, sepertinya dia tahu apa yang baru aku alami dengan dokter Rut.
” Pak Jan? Benarkah?” 
            “Dia telah membunuh dokter Rut!” Yusuf menunjuk pak Jan dengan geram.
            “Pak Jan menyelamatkan aku dari dokter Rut, Yusuf. Pak Jan membunuhnya karena dokter Rut tak mau melepaskan aku! Dia akan mengambil bayiku!” kucoba menjernihkan dialog yang mulai membuatku bingung
“Tidak, kau salah! Dokter Rut akan  menyelamatkanmu dari Jan!” Yusuf bicara dengan urat leher menegang.
            “Jangan percaya, Qonita! Mahluk jadi-jadian selain fisiknya gagal, pasti mentalnya juga mengalami kerusakan.” Pak Jan memotong pembicaraan kami.
            “Yusuf menderita kelainan mental?” suaraku terdengar ragu. Bagaimana mungkin mahluk yang selalu dipenuhi kebaikan, kehangatan, ramah ini mengalami kelainan? Dan kini dekat dengan Tuhannya mengalami gegar jiwa?
            “Yah tentu saja. Penderitaannya sebagai bahan percobaan para inohedonist yang menyebabkannya.” Tapi pak Jan menerangan alasan yang sangat masuk akal.
            “A-aku tak percaya...” kataku patah.
            “kenapa tidak? Jika dia berniat menolongmu, kenapa dia harus berlama-lama di rumah yatim piatu itu?” pak Jan memberikan pertanyaan sebagai jawaban. Ya untuk apa Yusuf tinggal di rumah Ratija tanpa muncul sekalipun di hadapanku, jika memang dia ingin menyelamatkan aku. Tak peduli, betapa canggihnya pertahanan sebuah android bernama Boy,
            “Qonita jangan percaya... aku percaya, hatimu begitu dipenuhi kebaikan, dan Allah  telah menunjukannya.” Yusuf bicara dengan gaya rayuan ibu Ratija. 
            “Untuk apa dia di rumah kami?” pertanyaan ini membuat aku masgul.
            “Haaa... kau pikir buat apa? Bayangkan seumur hidup dia ada di hutan buatan tanpa pasangan! Kau tahu artinya? Libidonya, naluri dasarnya mencari pembenaran.” Pak Jan bicara datar. Seolah kasus seperti ini sudah sangat biasa terjadi.
            “Maksud pak Jan?” apakah Yusuf di rumah ibu Ratija untuk memenuhi semua desakan biologisnya? Nafsu binatangnya? Karena separuh dirinya bukan manusia. Ya dia itu bukan manusia!
            “Dia itu semacam pedofilia yang menemukan syurga di rumah Yatim itu.” jawaban pak Jan tetap saja membuat aku tercekat, sekalipun kepalaku menduga hal yang sama.
            “Ti-tidak!”  aku tak ingin mempercayainya.
“Bohong.” Suara Yusuf  menimpahi dialog kami disela hingar bingar suara gemuruh dan sirine, dan alarm keamanan.”
            “Yusuf...” hal bodoh yang batal aku lakukan: meminta klarifikasi padanya.
            “Cepat lepaskan tanganmu! Loncatlah kemari!” perintah Yusuf segera dengan gaya  siap menerima jatuh tubuhku.
            “Hahaha... kau masih percaya dia?”pak Jan tertawa mengejek. Seolah kami sedang melawak.
            “Jadi kenapa aku harus percaya padamu?”tanyaku penuh ragu. Aku harus berusaha objektif bukan? Harus mengumpulkan semua bukti dan pernyataan, untuk dapat mengambil keputusan yang tepat.
            Oh-oh! Haloooo otak bodoh! Ini sedang situasi darurat! Kupaksa pasir diotakku diam sejenak.
            “Apa? Apa kau meragukan aku? Setelah lamaranku? Harapanku atasmu? Perlindunganku selama ini? Bantuanku terhadap rumah Yatim Ratija? Penolakanku terhadap Maya. Apa kau belum mengerti juga? Semua itu tak akan aku lakukan jika aku tak punya perasaan apapun padamu.” Suara pa Jan mengiringi geraknya yang lincah merayapi tangkai, dan suluran pohon Liana.
            “Ma-maafkan saya pak.” Apa yang pak Jan katakan begitu ‘bulat’ di benakku. Aku butuh bukti apa lagi? Bahwa aku bersandar pada punggung yang tepat.
            Maksudku: bahwa aku bersama dengan  orang yang tepat.
            “Tanyakan pada Jan, Kenapa dia membawamu ke sini? memaksakan kelahiran prematur bayi kembarmu, Qonita!” teriak Yusuf  dari bawah.
            “Karena hanya klinik inilah yang paling canggih! Dan tentu saja karena aku mengutamakan keslamatanmu.” Pak Jan menjawab tanpa diminta.
            “Karena Janlah otak segalanya. Hanya di pusat riset B-Go disinilah, catatan biologismu tersimpan rapih! Jan juga  tahu semua tentang hutan buatan ini.  Dia sudah tahu pintu menuju atapnya. Bagaimana mungkin dia tahu jalan-jalan di sini bila bukan karena dia telah terbiasa di tempat ini? Bahkan mungkin dia salah satu perancangnya! Dialah yang bertanggungung jawab atas kehamilanmu! Bayimu adalah anakku, Qonita! Kita hanyalah kelinci percobaannya.”suara Yusuf terdengar begitu jelas.
            “Qonita, dengar! Tahukah kau Seekor manusia buatan  begitu pandai berimajinasi ditengah kerusakan otak dan kecacatan mentalnya!” Jan bicara sambil menggapai pintu bagian atas .         Tangannya dibantu seseorang dari atap sana
Tapi Yusuf menghalanginya dengan cara memegangi  kaki pak Jan  dan dia mulai bergantung di kaki pak Jan.
            “Qonita turunlah! demi anak yang kau kandung, dan kebenaran yang nyata...” perintah Yusuf . Tangannya mencoba menggapaiku.
            “Tembak dia!” peritah pak Jan pada seseorang diatas sana.
            Tidak! Jangan ada lagi pembunuhan. aku segera merayap turun. Aku menyisih di dahan yang lain. Aku lihat Yusuf bergoyang-goyang membuat gerak ayunan. Hingga beberapa peluru berdesing meleset disamping tubuhnya.
            “Lepaskan kakiku, Binatang!” teriak Jan kalap.
            “Qon! Turunlah!” pinta Yusuf lagi.
            “Selamatkan gadis  ini!” perintah Jan pada orang yang diatas sana.
            “Akulah ayah anak itu Qonita! Aku kabur dari sini dan mencarinya selama pelarianku.”
            Deg! Situasi bertempo cepat ini seolah mengalami pouse untuk beberapa saat.
            “Apa?!” tanyaku. Spontan kulepaskan tangan penolongku yang di atas.   Kuputuskan menjauhkan diri dari pak Jan.
            “Hahaha! Dasar gila! Bagaimana mungkin seekor manusia buatan yang steril mempunyai anak? Oh, Qonita apa yang kau lakukan?” Kini pak Jan bergerak berusaha menggapaiku. Tentu saja aku harus berhati-hati dalam situasi membingungkan ini.
            Dengan Sigap Yusuf mencuri kesempatan ini untuk memukul Jan. Maka pertarungan di lantai kayu ini pun mulai berlangsung.
            “Qonita! Turunlah terus, dari pohon ini, di sebelah kanan kau akan menemukan gorong-gorong pembuangan air sungai buatan, ikuti saja arusnya, kau akan selamat! Ceritakan  pada dunia apa yang terjadi di sini!” perintah Yusuf cukup jelas, padahal dia sambil meloncat ke sana ke mari menghindari tendangan dan tinju pak Jan.
            Yusuf adalah ayah anakku! Oh Tuhan! Aku percaya begitu saja. Mungkin ini yang disebut ‘kimia’ itu. Aku si radikal bebas, dan Yusuflah atom yang mengikatku.
            Jadi aku pun turun sesuai denganm perintah Yusuf.
            “Kejar anak itu!” kudengar  Jan memberi perintah pada orang-orang di atas. Para begundalnya. Oh Tuhan! Selamatkan aku… selamatkan…

***



BERSAMBUNG

TELELOVE 86

PANGERAN.27



KERIBUTAN DI HUTAN BUATAN



“Karena Janlah otak segalanya! Dia tahu semua tentang hutan buatan ini!  Dia tahu pintu menuju atapnya! Bagaimana mungkin dia tahu jalan-jalan di sini bila bukan dia yang merancangnya! Dialah yang bertanggungung jawab atas kehamilanmu! Bayimu adalah anakku, Qonita! Kita cuma  kelinci percobaannya!”suaraku bersemangat, penuh tenaga.
            “Qonita, dengar! Tak tahukah kau bahwa Seekor manusia buatan begitu pandai berimajinasi ditengah kerusakan otak dan kecacatan mentalnya!” Jan bicara sambil berusaha menggapai pintu di atasnya.
            Tangannya dibantu seseorang dari atap sana.  Aku tak boleh terlambat. Kugapai kakinya, sekali dua kali aku tak bisa menggapi. Kutekadkan dengan sedikit loncatan. Berhasil. Aku bergelantung dengan memegang kaki Jan.
            “Qonita turunlah, demi anak yang kau kandung, dan kebenaran yang nyata...” pintaku di sela hela nafasku, tanganku menggapai Qonita.
            “Tembak dia!” peritah Jan pada seseorang diatas sana.
            Tembak? Tembak dengan peluru yang menghacurkan semuanya? Tidak! Secara spontan aku bergoyang-goyang membuat gerak ayunan. Hingga beberapa peluru berdesing meleset disamping tubuhku.
            “Lepaskan kakiku, Binatang!” teriak Jan kalap.
            “Qon! Turunlah!” pintaku.
            “Selamatkan gadis  ini!” perintah Jan pada orang yang diatas sana.
            “Akulah ayah anak itu Qonita! Aku kabur dari sini dan mencarinya selama pelarianku.” Kurasakan kekuatan lain dalam suaraku. Ini pasti karena Tuhan memberikan kekuatan ekstra padaku.
            “Apa?!” Qonita tidak menerima bantuan uluran tangan orang yang di atas. Dia mengambil dahan dan lepaskan diri dari Jan Rabiko. 
            “Hahaha! Dasar gila! Bagaimana mungkin manusia buatan  steril mempunyai anak? Oh, Qonita apa yang kau lakukan?” Kini Jan bergerak berusaha menggapai Qonita. Ini adalah kesempatanku menariknya. Ya Tanganku mencoba menarik tubuh Qonita lebih keras. Kami kini sama-sama berdiri di panggung kayu tempat para peneliti melakukan observasi. Panggung kayu tempat aku dan dokter Rut berkasih sayang seperti ‘hewan peliharaan’ dan majikannya.
            Rumah pohon  tempat dokter Rut bicara padaku, sekalipun aku bisu, lalu menangis, lalu tertawa. Dokter Rut yang telah hancur...
            Jan mari kita tunjukan siapa tuan rumah di sini!
            “Qonita! Turunlah terus, dari pohon ini, di sebelah kanan kau akan menemukan gorong-gorong pembuangan air sungai buatan, ikuti saja arusnya, kau akan selamat! Ceritakan pada dunia apa yang terjadi di sini!” Sambil meloncat ke sana ke mari menghindari tendangan dan tinju Jan, mataku berbinar melihat Qonita turun sendiri.
            “Kejar anak itu!”  Jan memberi perintah pada orang-orang di atas. Para begundalnya yang terlatih meluncur turun melalui tiang penyangga.
            Sementara kami masih sibuk berkelahi dengan aneka jurus. Sekali lagi, aku terkejut, ternyata  Jan juga  pandai bela diri. Sementara aku hanya menggunakan kemampuanku menghindar.
            Kutengok ke arah bawah beberapa carnivora buatan sedang melangkah bingung. Mereka tak bisa memanjat, sementara asap mendesak mereka. Bunyi geram dan jerit histeris binatang-binatang buatan membuat kacau pendengeranku.
            Aku baru sadar, keselamatan mereka juga terancam dengan turunnya para begundal Jan dan senjata pamungkasnya. Aku mencari dahan lebih tinggi, menghindari Jan. Kulihat Jan mentertawakan aku. Dia pasti menyangka aku menghindarinya. Aku tak peduli dengan dugaannya.
            Kulengkingkan suara kewaspadaanku, lalu suara peringatanku. Suara asliku saat aku bisu bahasa manusia. Aku merasa inilah pertolongan Tuhan yang lain, karena di saat yang sama, para carnivore di bawah sana mengerti maksudku, mereka melihat ke atas, dan berpencar. Aku memberi komandaku dengan bahasa ‘primitive’ ini, agar mereka mewasapadai senjata, dan membiarkan tembakan terus berlangsung. Hingga akhirnya para begundal Jan itu kehabisan peluru.
            “Sial! Kau memperingatkan teman-temanmu? Dasar Binatang!” Jan menghentikan langkahnya. Dari atas dia memandangku takjub.
            Kukirimkan seriangai terindahku.
            Suara tembakan terhenti. Senyap. Lalu secara tiba-tiba para karnivora itu menyerang dengan cara mengeroyok para begundal Jan. Bisa dipastikan kebengisan yang terjadi, karena  mereka sedang membayar hutang dendam mereka atas teman-teman mereka yang mati ditembaki para pemburu.
            Hanya sebentar saja aku lengah, kudapati Jan dengan sigap lari memanjat ke atas, dan dengan gesit dia menutup dan mengunci pintu geser kurungan polymer hutan buatan ini. Aku gagal meraihnya. Kulihat Jan menarik tali yang terjulur dari helikopter. “Tarik! Tarik! Cepat pergi dari sini!” aku bisa melihat bahasa bibirnya bicara. Manusia jahat itu membiarkan anak buahnya mati dikoyak-koyak para karnivora.
            Kuputuskan secepatnya mengejar Qonita dibawah sana. Kulewati para karnivora buatan yang sedang berpesta dengan hidangan para penembak jitu yang tak jitu. Para Karnivora buatan tak mempedulikan keadaan genting seperti ini. Kecipak mulut mereka mengaduk air liur dan sobekan daging tertimpa oleh geram kenikmatan makan mereka  di Suaranya terdengar mengerikan.
            Rupa wajah mereka berlumur darah para pemburu. Mata mereka menyala penuh amarah.  Inilah yang dinamakan impas. Darah dibayar darah. Nyawa dibayar nyawa.
            Tak jauh dari pohon ini, aku bisa melihat selokan buatannya. Arusnya lumayan deras. Debit yang tinggi itu di desain agar air yang lewat selalu kaya akan oksigen. Akupun terjun ke sana, mengikuti arusnya. Mengikuti Qonita.
***
           



BERSAMBUNG

Rabu, 26 Oktober 2016

TELELOVE 85

PANGERAN. 27

KERIBUTAN DI HUTAN BUATAN




Mataku menari-nari mencari sosok Qonita  ditengah lalu lalang orang yang berlarian tak menentu arah. Seingatku karyawan B-Go tidak terlalu banyak. Hanya beberapa puluh saja. Tapi kenapa saat ini sepertinya orang-orang yang panik dan penolong seolah menggandakan diri dan menjadikan jumlah yang hadir di lokasi ini begitu banyak?
            Bunyi sirine ambulan meraung-raung, tumpang tindih dengan sirine tanda bahaya, dan mobil pemadam kebakaran. Ditambah dengan bunyi helikopter yang berputar-putar diatas hutan buatan. Mungkin di hutan yang terbakar itu masih ada orang yang perlu diselamatkan.
            Ah! Pasti helikopter itu khusus menyelamatkan orang penting. Para pemburu itu pasti orang-orang kaya yang penting. Atau…Helikopter itu pasti menjemput Jan, dan pasti Qonita ada di sana juga!
            Aku harus cepat bergerak. Gang-gang, labirin-labirin pepohonan teh-tehan setinggi 2,5 m  yang dulunya dipakai untuk menguji kemajuan IQ ku, dan beberapa spesimen percobaan yang lain,  kini dapat aku lewati dengan mudah tanpa mengalami jalan buntu. Sepertinya ingatanku atas jalan-jalan ini keluar begitu saja di kepalaku. Ini pasti karena revolusi tingkat kecerdasanku. Padahal dulu waktu melakukannya aku mengalami kesulitan dan frustasi.
            Bersamaan dengan terbukanya peta jalan rumit ini dikepalaku, terbuka juga  sejarah kelamku. Di labirin pohon ini aku sering ‘dilepas’kan tanpa mengerti maksudnya. Pada belokan-belokan tertentu aku dapat menemukan hadiah-hadiah kesukaanku. Hingga hari- berikutnya aku dapat menghapal jalannya untuk menemukan hadiah itu..
            Tapi di hari lain  aku terbirit-birit lari dari kejaran carnivore buatan  yang mereka tempatkan di belokan-belokan kejutan. Sialan. Beberapa kali disaat tersudut seperti itu aku mengelupas, tanpa bisa ditahan. Karena aku berada dalam tekanan mental yang parah.
            Bisa jadi bila mereka mendapatkan anakku, maka anakku akan mengalami hal yang sama  denganku. Tes kesehatan rutin yang menyebalkan, uji mental rutin yang melelahkan, uji IQ, Uji fisik. Lalu bila hal ini sampai terjadi, bagaimana dengan perasaan Qonita, si gadis normal yang lembut hatinya?
            Di ujung labirin jebakan ini dapat ditemui beberapa pintu. Tapi yang aku hapal hanya pintu menuju hutan buatan. Begitu melihat pintunya, kutemukan asap mendesak, menyelusup ke luar dari sana melalui celah-celahnya. Apa separah itu kebakarannya?
            Sekuat tenaga kutendang pintunya, aku tak mau mengambil resiko dengan memegang tangkai pintunya yang pasti panas. Begitu pintu terbuka, beberapa hewan berlari linglung keluar, diiringi asap putih yang menyeruak memenuhi labirin. Kulihat di atas hutan buatan, helikopter terbang diam menunggu orang-orang merayapi tangga yang terjulur dari helikopter. Rupanya di atap hutan buatan juga dirancang untuk post penyelamatan darurat seperti ini.
***

Aku melihat bayangan yang kucari. Jan Rabiko menuntun Qonita. Dia dengan perkasa menaiki batang-batang pohon besar menuju pintu atas hutan buatan. Jan beberapa kali membantu Qonita untuk memanjati pohon-pohon. Luar biasa, Jan mampu membantu Qonita yang sedang dalam keadaan hamil. Rupanya Jan  telah menghapal protocol keamanan tercepat seperti ini. Buktinya dia telah ada di sana. Jan tidak menyelamatkan Qonita melalui jalan biasa, atau depan gedung. Tentu saja tidak! Karena di sana telah berkumpul para jurnalis yang lapar akan berita.
             “Qonita!” Spontan  aku memanggilnya.
            “Yusuf? Itu yusuf! Yusuf!” suara Qonita terdengar lemah, ragu, lalu yakin dan tegas. Aku bisa merasakan nada gembira dalam teriakannya.
            “Qonita! Turunlah!” teriakku. Ingin sekali aku memanjangkan tangan ini dan merebut Qonita dari rengkuhan lengan  Jan Rabiko. Tapi tak mungkin, karena kemampuanku   yang aneh cuma, mengelupas. Jarak kami terlalu jauh untuk aku gapai.
            Seperti dugaanku, Jan Rabiko mempercepat geraknya. Tak dapat kupercaya, kekuatan lelaki ini. Bolehlah dia itu ilmuwan tampan, kaya, pintar, digilai banyak wanita, penipu ulung tapi kenapa harus kuat juga? Bukankah tidak ada sempurna di dunia ini?
             “Qonita... turunlah, jauhilah Jan, dia akan mengambil anakmu, DEMI NAFSUNYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN!” aku bicara sambil tetap bergerak. Telingaku bisa menangkap apa yang mereka bicarakan.
            “Yusuf... kau tahu aku hamil?”
            “Ya, dan banyak orang yang berkepentingan dengan janinmu, Qonita!”
            “Pak Jan? Benarkah?” suara Qonita lemah penuh keraguan.
            “Dia telah membunuh dokter Rut!” aku bingung memilih kata-kata darurat.
            “Pak Jan menyelamatkan aku dari dokter Rut, Yusuf. Pak Jan membunuhnya karena dokter Rut tak mau melepaskan aku! Dia akan mengambil janinku!” terdengar suara Qonita yang lemah. Tapi aku dapat mendengarnya, ya, ini karena daya dengarku lebih istimewa disbanding manusia kebanyakan.
            “Tidak, kau salah! Dokter Rut mau menyelamatkanmu dari Jan!” uratleherku menegang.
            “Jangan percaya, Qonita! Mahluk jadi-jadian yang fisiknya gagal, pasti mentalnya juga mengalami kerusakan.” Suara Jan berselang tarikan nafas
 Oh dasar Jan keparat! Begitu pandainya dia membolak balikan cerita.
            “Yusuf menderita kelainan mental?” Qonita begitu lemah.
            “Yah tentu saja. Penderitaannya sebagai bahan percobaan para ilmuwan adalah penyebabnya.” Suara meyakinkan  Jan Rabiko membuat gigiku gemelutuk.
            “A-aku tak percaya...” suara Qonita semakin lemah.
            “kenapa tidak? Jika dia berniat menolongmu, kenapa dia harus berlama-lama di rumah yatim piatu itu?” kini aroma hasutan suara Jan memaksa jiwa Qonita untuk setuju.
            “Qonita jangan percaya... aku percaya, hatimu begitu dipenuhi kebaikan, dan Allah  telah menunjukannya.” kucoba kugapai keraguan Qonita
            “Untuk apa Yusuf di sana?” tanya Qonita.
            “Haaa... kau pikir buat apa? Bayangkan seumur hidup dia ada di hutan buatan tanpa pasangan! Kau tahu artinya? Libidonya, naluri dasarnya mencari pembenaran.” Pak Jan bicara sambil menyeringai. Sial mahluk iblis itu!
            “Maksud pak Jan, apa?” Qonita bersuara semakin lemah. Kuatkan dirimu Qonita! Aku akan menyelamatkanmu!
            “Dia itu semacam pedofilia yang menemukan syurga di rumah Yatim itu.” Jan menaiki cabang pohon yang lain.
            “Ti-tidak!” Qonita jelas sekali tak ingin percaya.
            “Bohong.” Suaraku menimpahi kebohonganngannya disela hingar bingar suara gemuruh dan sirine, dan alarm keamanan.
            “Yusuf...” Qonita memanggilku.
            “Cepat lepaskan tanganmu! Loncatlah kemari!” pintaku segera dan siap menerima jatuh tubuhnya.
            “Hahaha... kau masih percaya dia?” tawa iblis Jan hah ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan gombal bau[1].
            “Jadi kenapa aku harus percaya padamu?”suara Qonita penuh ragu. Syukurlah, setidaknya dia sedang berusaha berpikir dari beberapa sudut. Tuhan, ‘pandaikan’ Qonitaku kali ini.
            “Apa? Apa kau meragukan aku? Setelah lamaranku? Harapanku atasmu? Perlindunganku selama ini? Bantuanku terhadap rumah Yatim Ratija? Penolakanku terhadap Maya. Apa kau belum mengerti juga? Semua itu tak akan aku lakukan jika aku tak punya perasaan apapun padamu.” Suara Jan mengiringi geraknya yang lincah merayapi tangkai, dan suluran pohon Liana. Sungguh aku takjub sekaligus iri atas kemampuannya memanjat, mengingat dia itu manusia normal, bukan manusia buatan sintesis sepertiku.
            “Tanyakan pada Jan, Kenapa Dia membawaku ke sini? Dan memaksakan kelahiran prematur bayi kembarmu, Qonita!” teriakku dari bawah sini. Oh, Tuhan kemanakah kemampuan memanjatku yang cepat itu?
            “Karena hanya klinik inilah yang paling canggih! Dan tentu saja karena aku mengutamakan keselamatanmu.” Jawab Jan langsung tanpa menunggu mulut Qonita bersuara.



BERSAMBUNG



[1] Kain bekas yang biasanya dipakai untuk lap/pel.

Senin, 24 Oktober 2016

TELELOVE 84

PANGERAN. 27
KERIBUTAN  DI HUTAN BUATAN
           





Apa saja yang dilakukan dokter tua itu? kenapa begitu lama?  kenapa dokter Rut tak kembali juga?  Usianya yang tua pasti membuatnya bergerak lamban. Aku harus lebih bersabar lagi.  Kusibukan diriku dengan melakukan banyak hal. Tidur, mengamati cctv, lalu sholat tahajud.
Dalam sujudku kubisikan pada Tuhanku, agar ia memampukan aku untuk membawa Qonita dan anakku, pergi dari sini, dan mengayomi mereka. Karena aku seorang suami, dan seorang ayah bagi anak-anakku. Kuulangi sujudku.Tuhan lindungi aku!
            Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Segera kumulai langkah lariku. Malam begitu senyap. Gelap. Angin berhembus perlahan, mengantarkan aroma tak sedap dari kejauhan.  Kuhirup dalam-dalam udara malam ini. Benar. Aku bisa mencium kimia bahan ledakan. Mungkin dari  Hutan Buatan. Aku juga mencium bau panggangan daging. Pasti ada penghuninya yang terpanggang. Apakah mereka, para biadab,  itu melakukannya lagi? Di waktu seperti ini, tengah malam ?
            Mengingat kemungkinan apa yang sedang terjadi di sana, kurasakan jantungku berdenyut lebih keras, seolah jantung ini ingin lepas dari selubungnya.
            Aku berlari lebih cepat lagi, kukibas ilalang-ilang tinggi yang aku lalui. Aku tak boleh melewati jalan umum, sekalipun  kawasan ini sangat sepi, aku tak ingin mengambil resiko berpapasan dengan orang, dan memancing kecurigaan.
            Pagar yang mengelilingi kawasan ‘buangan’ ini sudah nampak dari kejauhan, aku harus hati-hati. Mengingat secara cepat letak kamera-kamera pengintai. Jangan sampai aku tertangkap oleh kamera. Aku harus mengalihkan arahnya dengan cara memasuki sistem keamanan mereka, dan mengendalikannya melalui penyerentaku.
            Berhasil. Terima kasih dokter Rut, atas idemumu menanamkan kepandaian dan gen primitifku.
            Maka melengganglah aku. Melayanglah tubuhku, kembali berlari secepat aku mampu.
Dari jauh kurasakan kegemparan  Hutan Buatan. Kuputuskan berhenti sejenak. Lalu aku panjat pohon Ki pahit yang ada di samping jalan. Dari atas pohon ini, aku bisa melihat cahaya berpendar yang berasal dari lingkungan elit B-Go. Kadang satu kawasan berkelap kelip. Gelap lalu memerah terang. Lalu gelap lalu  memerah terang. Berpendar nyeri. Itu pasti kawasan Hutan Buatan, cahaya-cahaya itu pasti hasil dari ledakan-ledakan gila para biadab.
Melalui beberapa pintu keamanan jaringan, aku berhasil menemukan cara mentelusuri peta kawasan kerja B-Go.  Dari peta hasil pencitraan  satelit, dan kejelian mataku, aku dapat menemukan pintu langit-langit buatan. Pintu-pintu yang biasa digunakan oleh para ilmuwan  untuk mencapai pucuk-pucuk pohon tertinggi di hutan buatan, dimana mereka biasanya melakukan penelitian, atau pengamatan lingkungan langsung. Ternyata langit-langit Hutan Buatan terdiri atas pintu-pintu geser  yang bisa dikendalikan jarak jauh.
            Syukurlah aku bisa menemukannya melalui kehebatan teknologi penyerenta ini. Setelah aku berhasil menyusup kedalam sistem kendali pintunya, kini aku dapat membuka menutup pintunya dari sini.
Tentu saja yang aku lakukan adalah membukanya. Agar ‘teman-temanku dari kelompok Burung Buatan’ dapat terbang keluar. Atau mungkin hewan buatan lain dapat merayapi dindingnya menuju kebebasan dunia luar.  Agak terlambat memang. Tapi daripada tidak kulakukan apapun.
Benar saja. Selain burung buatanPrimata buatanpun mulai ke luar dari sana. Terbayang suasananya begitu  ribut dan kacau. Samar aku mulai mendengar sirine meraung-raung. Semua meneriakan tanda bahaya.
            Aku harus bergerak cepat! Mencari Qonita dan dokter Rut untuk menyelamatkan mereka. Aku pun menuruni pohon Ki pahit. Dengan baju seragam karyawan milik dokter Rut yang sangat  kekecilan, aku berlari ke arah paviliun gedung B-Go. Paviliun yang dijadikan klinik perawatan para pasien. Qonita mungkin di sana.
            Lariku berlawanan arah dengan penghuni gedung.  Orang-orang dari dalam berhamburan ke luar gedung. Sementara dari luar sini, tim penyelamat berlarian menuju gedung, dan kelompok penyelamat lain berlarian  menuju hutan buatan. Kurasa tak seorangpun mencurigaiku. Sekalipun aku berbaur dengan mereka. Ini pasti karena aku mengenakan seragam kerja dokter Rut.
            Tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Qonita. Aku membuka pintu kamarnya. Tapi di sana yang kutemukan  hanya dokter Rut, terduduk lesu di bawah ranjang kosong.
            “Dokter!”
            “Sebelas…!Yu-suf...” tangannya yang semula menutup dadanya menghalau  ke arahku. Kini aku dapat melihat aliran darah dari dadanya.
            “Dokter... siapa yang...” belum sampai kalimatku diujung, dokter Rut dengan suara parau tangannya tetap bergerak mengusirku.
            “Jan. Jan Rabiko… membawa Qonita… pergi. Selamatkan Qonita!... Dia bisa melahirkan… di mana saja! …. Cepat!” Dokter Rut berbisik di telingaku. Aku hanya mengangguk. Kukutuki diriku karena aku terlambat datang.
            “Dokter, bertahanlah.. aku akan menghentikan pendarahannya.”
            “Ti.. dak... perlu... aku ingin segera  mati.. cepat pergi.. kejar mereka!”
            “Aku harus mencari sesuatu...” mataku mencari alat medis yang kira-kira tersedia di situ. Tapi bagaimana mungkin ini hanya ruang perawatan, bukan penyimpanan alat-alat medis.
            “Ti... dak.. Kau tidak bisa melawan peluru ini... cepat pergi!” bisiknya parau.
            Mataku membelalak liar, otakku menyeruak, mengeluarkan ingatan tentang peluru para pemburu di  hutan buatan. Dokter Rut mengangguk pasrah.
            “Tidak!... Tidaaaak...!”
            “Cukup Yusuf... inilah hasil segala kerja kerasku... kau harus menyelamatkan Qonita... karena dengan begitu... berarti... kau akan terus mengenangku dengan kebaikan.”
            “Dokter...”
            “Maafkan aku... Yusuf...”
            “Dokter...”
            “Kau adalah anugerah terindah dalam  hidupku, Yusuf, aku bahagia melihatmu… seperti ini… cepat… kejar mereka !”
            Kutetapkan hati ini untuk tak berpaling lagi, pada seorang tua yang menyayangiku. Cepat aku melesat ke luar ruang. Begitu pintu otomatis menutup, aku dikejutkan dengan bunyi ledakan dari ruang yang baru saja aku tinggalkan itu.
            Kakiku kaku tak mampu melangkah lagi. Mataku terpejam. Aku tak ingin membayangkan wajah dokter Rut dan  muncratan darah yang mengotori ruangan. Tapi aku gagal.
            Hatiku begitu pedih. Dalam kekacauan sekejap kurasakan gejala meluruh pedihku. Tidak jangan sekarang! Kulantunkan almatsuratku berulang. Mencari ketenangan disana. Mendamaikan kekalutan akutku. Aku harus tenang! Tuhan hanya Engkaulah obat segala sakitku. Aku ikhlas. Innaka ni’mal maulaa wa ni’man nashiir. Sesungguhnya Enggkau sebaik-baiknya pelindung dan penolong.

***


BERSAMBUNG

Minggu, 16 Oktober 2016

TELELOVE 83

Tapi pasir di otakku yang biasanya ribut dengan berbagai Ini pasti mimpi. Ini hanya mimpi. Seperti biasanya, mimpi yang dimiliki oleh orang-orang kreatif sepertiku. Berulangkali jiwaku memberi pengumuman pada pasir di otakku.
‘(Ini hanya mimpi) x 1000[1]
pendapat begitu kompak menjawab: ‘(ini sedang terjadi, bangunlah!) x 10000[2]
Pembaca budiman yang cerdas dan pandai matematik, pasti langsung tahu jawabnya.
Kini, kucoba kuhubungankan antara pandangan mataku dan pasir di otakku.
Kini kusadari kami sampai di sebuah mega sangkar. Ini pasti semacam hutan buatan yang sering diceritakan Yusuf. Hutan hujan tropis yang lebat, rimbun, dan berasap. Kenapa pak Jan membawaku lari ke  hutan yang berasap ini? kebakaran Hutankah ini?
Lalu Kusadari hutan ini dalam keadaan kacau. Asap merayapi udara.  Terdengar jeritan dari berbagai macam suara. Pepohonan yang bergoyang-goyang menahan loncatan primatan dari dahan ke dahan.
 “Pegang yang erat, hati-hati  kita akan ke atas...” pak Jan menarik tanganku. Sementara aku mulai terengah. Perutku tegang. Apa pak Jan lupa aku dalam keadaan hamil? Kenapa dia menyuruhku memanjat?
Baru beberapa cabang pohon kami lalui ketika dentuman terdengar tak jauh dari kami. Suara sirine, alarm tanda bahaya meraung-raung menambah kalut suasana. Samar kedengar derum mesin helikopter menambah bingungku. Ya, kami harus naik ke atas, helicopter itu pasti menjemput kami. Bagaimana pak Jan mengaturnya?
***



BERSAMBUNG



[1] Sebuah persamaan matematika.
[2] Sebuah persamaan matematika juga.

TELELOVE 82

PUTRI. 26.
BUKA SAJA TOPENGMU!





Setelah itu, dia  terburu ke luar dari kamar. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Tuhan! Kenapa dia berani menyentuh daguku? Apa karena hamil, aku kini nampak ‘murahan’? Perasaan bersalah menderaku Perutku mencengkeram sakit, menyadarkanku kembali. Aku harus berpikir cepat, jangan menunggu hasil test urineku (yang isinya jus apel madu) itu membuat kegemparan. Sebelum kegemparan terjadi, aku harus sudah jauh dari sini.
            Ibu Ratija, tolonglah aku! Kini  aku baru sadar, telpon genggamku hilang.
***


Saat aku bingung mencari telpon genggamku, pintu otomatis ruanganku bergeser. Kukira perawat yang akan muncul, ternyata dokter Rut. Oh? Bukankah dia  baru saja keluar dari ruang ini dengan tergesa-gesa? Apa ada yang tertinggal? Atau  dia akan membalas dendam karena aku mengisi kaleng  jus apel dengan urine ku, dan dia meminumnya?
            “Cepat!” dia menarik selimutku membuat aku terkejut. Apa? Dia mau apa? Membuka selimut tanpa permisi begini. Lewat kaca jendela, sepintas aku menangkap gambar gadis berjilbab berwajah idiot. Oh itu adalah aku!
 Karena aku masih bingung dan diam, Dokter tua itu mencari jaket dan sepatu katsku dan memasangkan dengan paksa padaku. Kelakuannya sungguh tak terduga. Apa dia akan menculikku dan menjadikan aku sebagai kelinci percobaannya seperti Yusuf? Gadis hamil, tentu objek yang cukup menarik bagi segala percobaannya.
Pasir di otakku riuh menghasut. Ingat dokter inilah yang menjadikan Yusuf mengerikan seperti itu. Membiarkannya bodoh, tak manusiawi! Apa kau mau menggantikan Yusuf menjadi kelinci percobaannya? Atau dia kini mengincar anak kembarmu! Akupun menahan gerak tangannya. Menolaknya meneruskan gerakan.“Ada apa dokter?”
             “Ayo cepat, ... kalau tidak...”
            “Kalau tidak kenapa Dok?” tiba-tiba pintu terbuka. Pak Jan berdiri di sana, matanya menyala  penuh amarah. Oh, pahlawanku!
            Syukurlah! Rupanya Allah mengirimiku penyelamat di saat yang tepat.
            “Oh-oh, kalau tidak semuanya akan terlambat Jan..” suara dokter Rut terdengar kaget dan gugup. Tangannya yang mengikat tegas tali sepatuku, gemetar diatas selimut. Matanya berkedip bingung.
            Hahaha, dokter Rut, kau mau bilang apa?
“Aku akan memeriksanya, aku menangkap sesuatu yang tak beres di monitor pengamat kami.” Suara dokter Rut tenang.
Hmm, secepat itu dia mendapatkan kestabilan, dasar ilmuwan culas.
“Aku tak percaya.” Pak Jan mendekati kami. Tangannya, seperti biasa, bersembunyi di saku celananya.
“Aku tak memerlukan kepercayaanmu.” Dokter Rut menarikku turun, lalu dia berbisik, “Cepat, pada hitungan ke tiga, kita lari, loncat ke jendela, mobilku ada di bawah.”
Hahaha. Dasar penculik bodoh. Mana ada korban yang bisa bekerja sama?
“Qonita... ini penting!” akhirnya dokter Rut mendorongku turun, dan menarikku ke jendela. Tapi  pak Jan lebih sigap. Dia menarik tanganku yang lain dan mendekapku.
Dari cermin dibelakangnya aku melihat tangan kanan pak Jan mengeluarkan senjata mungil dari balik pinggangnya.
“Oh... Jan....” dokter Rut mundur sambil mengambil  bantal dan menggunakannya sebagai tameng. “Untuk apa kau lakukan itu? membunuhku sama dengan kau kehilangan setengah rancangan risetmu.” Dokter Rut mencoba bernegosiasi.
Pasir diotakku riuh bertanya. Riset? Pak Jan terlibat dalam riset apa bersama dokter Rut? “Apa maksudnya dengan risetmu pak Jan?” tanyaku akhirnya.
“Qonita...”suara dokter Rut terpotong dengan jawaban cepat pak Jan.
“Tidak ada riset apapun, Qon. Dokter Rut hanya tertarik dengan kehamilanmu. Seperti ilmuwan gila lainnya.”
“Cepat selamatkan dirimu, Qon! Gedung ini akan meledak karena seseorang menyumbat saluran  septik tanknya! Jika aku menculikmu, bagaimana aku memperingatkan ini? CEPAT!” dokter Rut menunjuk berulang kali ke arah jendela.
Pasir diotakku membadai. Benar, bagaimana mungkin seorang penculik membiarkan korbannya lari?
“Jangan bodoh Qon, beberapa kaki tangannya telah menunggu saat kau keluar dari ruang ini. Mana bisa septik tank di sumbat terus meledak? Dan kau dokter Rut, sepertinya aku harus membuatmu diam, agar tak membingungkan Qonita.”
Dar!
Tanpa diduga, tanpa dialog lagi, peluru dari pistol kecil itu melesat tanpa bayangan yang dapat aku tangkap. Langsung menembus bantal. Dokter Rut diam, terkejut. Wajahnya datar, matanya sekejap membulat kaget.
Haaa... dia masih hidup? Dia selamat dari tembakan ini? Karena menahannya dengan bantal? Mana mungkin!
“Larilah Qon! selamatkan dirimu!” dokter Rut terduduk, suaranya melemah.
Aku bukannya tak ingin melarikan diri dari situasi yang tiba-tiba membingungkan ini. Tapi kakiku tiba-tiba lemas karena shock melihat penembakan di depan mata, sekalipun korbannya nampak ‘hanya’ terduduk dan kesakitan.
“Oh, Qon, kemarilah!” dengan sigap pak Jan menarikku. Aku seperti melayang lari. Sepertinya keadaan shock berhasil menghilangkan beberapa adegan di depanku.

***


BERSAMBUNG

Translator: