Sabtu, 01 Oktober 2016

TELELOVE 72

PUTRI 23.




PREMATUR







Maka di sinilah kami. Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan 110 km diatas jalan bebas hambatan, yang penuh hambatan. Pak Jan berhasil memaksaku untuk menemui seorang dokter ahli untuk memeriksakan kehamilanku. Alasannya, karena sejak dinyatakan hamil, belum pernah sekalipun aku memeriksakan diri.
            “Pikirkan Qon, kau mungkin bisa menutupi kehamilanmu di depan ibu Ratija. Tapi di depan Wanda? Semakin hari perutmu akan semakin besar, dan Wanda dapat melihatnya.”
            “Yah, Wanda memang harus berpisah denganku.”
            “Bagus, kau kini tahu alasannya kenapa aku menginginkan dia ke luar dari apartemen kita.”
            “Ya, tentu saja, karena bapak telah melihat kelakuannya lewat si Boy.” Gumamku. Jadi kini terjawab keanehannya waktu itu, waktu pak Jan bilang bahwa dia mengetahui segalanya tentang Wanda. Tentu saja!
            Kulirik pak Jan, dia sedang tersenyum sendiri. Sarafnya pasti terganggu. Tadi dia begitu patah, saat aku menolak lamarannya, kenapa dia kini nampak ‘tenang dan tersenyum’ seperti ini?
            “Kau tidak memikirkan, bagaimana menjaga perut buncitmu jika Wanda terus menumpang di apartemen kita?” pak Jan menengok ke arahku. Aku jelas sekali menangkap ‘kata apartemen kita’.  Aku bingung, tak sempat lagi  tersipu.
            “Memangnya rumah dokter itu di mana? Kenapa kita belum sampai juga?”  Kualihkan ‘tentang kita’. Selain itu  aku mulai tak sabar dengan perjalan di mana aku tidak tahu tujuannya. Aku mulai berdebar cemas, saat pak Jan memilih jalan-jalan by pass menuju luar kota.
            “Tenanglah, kau tidurlah dulu!”
            “Oh? Kenapa kita tak mengajak si Boy. Agar bapak bisa beristirahat.” Kataku setengah menyesal.
            “Lalu Wanda?” tanyanya dengan senyum prihatin.
            Aku hanya bisa menghela nafas. Aku tak ingin membela Wanda, karena dengan adanya  si Boy, pak Jan dapat mengetahui semua kegiatan ‘tercela’ Wanda. Seperti bagaimana Wanda mengambil alat-alat makan yang dari perak asli itu. Dia pikir, pasti pak Jan tidak akan kehilangan, bila ia hanya mengambil satu atau dua saja. Karena pak Jan memiliki alat-alat makan perak yang banyak, antik, dan sangat berkelas.
Tangan kiri pak Jan mengambil termos minum dari darlam tasnya, “ Minumlah, aku mengisinya dengan minuman suplemen, bagus untuk kesehatanmu.” Melihat aku menolaknya, dia membuka botolnya, dan memberikannya kepadaku, dia memaksa.
            Baiklah, aku terima minuman ini. Rasanya memang menyegarkan.
            “Kau bisa mengatur posisi kursinya bukan? Tidurlah!”
            “Oh, terima kasih.”
            Tidak, aku tak boleh tidur, aku harus tahu aku dibawa ke mana. Tapi sebentar saja niat itu terpatri, menit berikutnya, aku menghianati keinginanku untuk terus mengamati jalan-jalan. Semuanya gelap, lalu aku berada dalam sebuah lokasi shooting pembuatan film layar lebar. Aku pasti sudah bermimpi!
***

“Sudah sampai, bangunlah! Qon...! Qon!” seseorang menepuk-nepuk pipiku berulang kali. Rasanya berat sekali aku bangun. Aku bahkan masih terus merasakan melayang. Sepertinya ototku begitu lemah.
            Aku dapat merasakan pak Jan ‘terpaksa’ menggotongku. Aku bisa merasakan nafasnya memburu udara, pasti karena jalan yang menanjak ini. Tapi itu tak lama. Karena kemudian aku rasakan ruangan yang terang benderang, dan harum karbol yang menyeruak. Rupanya pak Jan membawakau ke rumah sakit.
            “Oh, akhirnya datang juga, tidak ada hambatan apapun bukan?” aku bisa mendengar suara seorang pria. Mataku membuka tapi segalanya kabur. Aku merasakan tubuhku dipindahkan ke atas tempat tidur.
            “Dia mengalami kontraksi beberapa kali. Aku takut..” suara pak Jan.
            “ Oh? Kaubisa juga  khawatir? Aneh.” Suara Pria tua itu.
            “Selamatkan keduanya untukku, dok.”
            “Kita harus melihatnya dulu bukan?”
            Aku bisa merasakan tangan dokter itu mengolesi pelumas diperutku, lalu menempelkan alat periksa diatasnya. Pasti USG. Ingin sekali aku bangun, tapi kenapa begitu berat? Tuhan, aku ingin sekali melihat anakku, bangunkan aku!
            Aku dapat mendengar bunyi jantung bayiku. Keras, kuat, tegas, tapi kenapa ritmennya begitu cepat?
            “Bagaimana?” suara pak Jan nampak penasaran.
            “Bayinya kembar!”

***



BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Translator: