Jumat, 19 April 2013

BAHASA KITA DIRUSAK BUDAYA LISAN?



Yaaaa… gitu deh…
Ngono yo ngono ning ojo ngono…
Pokoknya sesuatu bangeut…
Kampseupay…
Demikianlah puisi kita hari ini.

Tapi jika kau ingin lebih kreatif dengan merangkaikan kata-kata hingga semua kata yang tak jelas artinya ini sedikit memiliki makna, mari kita coba:

Bahasa itu sesuatu bangeut keberadaannya saat ini. Karena kehadirannya, seseorang yang di cap Kamseupay, akan lebih mengerti situasinya mengapa ia disebut kamseupay.  Namun demikian Bahasa kita sering kali berbunyi  tiada  arti, seperti Ngono yo ngono ning ojo ngono (gitu ya gitu tapi jangan gitu). Apa ada diantara kalian yang mengerti maksudnya ? anehnya, kebanyakan orang mengerti maksudnya tanpa bisa mengungkapkan dengan penjelasan jelas, dan kata-kata yang ‘normal’. Kalau ditanya apa sih maksudnya  Ngono yo ngono ning ojo ngono… jawabnya ga kalah absurd : Yaaa… gitu deh. !.

Inilah gambaran bahasa kita. Komunikasi yang dibangun dengan budaya lisan dalam masyarakat  seolah melupakan kemampuan masyarakat dalam menyerap  budaya literasi.  Bahkan sangking hebatnya budaya lisan kita, kita cukup membunyikan sebuah kata tanpa arti, dan hebatnya lawan bicara kita mengerti maksudnya. Seperti dialog di bawah ini.

Bapak : Bu, tahu ga anunya bapak di tarok di mana (sambil mengelus jenggot yang tumbuh tanpa     dikehendaki. Maksudnya pasti  cukuran jenggot)
Ibu : Anunya pasti di simpen di anulah.
Bapak : Ga ada bu, pasti si Ade dah nemuin trus mainan, sampe lupa anunya di mana.
Ibu : Oh, ya ! ibu liat kemarin buat nyukur si Meong. Ade…. ! Huuh, coba kalo bapak ga anu sembarangan pasti  ga susah nyarinya !

*_* :’(

Bahasa jujurnya, inilah gambaran masyarakat yang kurang menyerap budaya literasi. Hal ini tergambar dalam kemampuan industri penerbitan menerbitkan naskah atau buku. Di Inggris konon sebulan  bisa terbit 500 judul buku. Sedang di sini cukup 50 judul saja. NAH.

Jadi salah siapa jika hari ini bahasa kita berkembang seperti ini ?
Salah Anu !


Tidak ada komentar:

Translator: