Sabtu, 10 September 2016

TELELOVE 62

PUTRI 21

DURI DALAM IKAN






Tayangan iklan dengan penampakan Yusuf di dalamnya membuatku pasir di otakku bergerak panik.  Aku tak ingin memperkeruh suasana dengan menghubungi ibu Ratija sementara aku sendiri tidak tahu harus bagaimana.
            Bip! Ini dia! Yusuf menghubungi telpon genggamku!
            “Ya…?” suaraku terdengar gemetar.
            “Qonita, kau sudah melihatku?” 
            “Ya…” suara gemetarku tak dapat aku sembunyikan.
            “Heuheu… aku mengerikan ya?” tawa ngilu terdengar. Dia sama sekali tak terlihat khawatir! Dia bahkan mentertawakan kengerian dirinya!
            “Kau…sudah  menggetarkan jiwaku…” kuraba perutku halus. Dia berdenyut halus.
            “Hahahaha… tentu saja kau gemetar, takut.” Kini kudengar suaranya ngilu.
            “Bu-bukan! Ini tentang perasaanku..” perutku perlahan berdamai.
            “Hahahaha… ini sedang genting Qon! Kenapa bicara tentang perasaan?”
            Ding! Dong! Pasir diotakku riuh menyampaikan pesan kilat dari hatiku. Tepatnya yang kuucapkan tadi itu dari hati-lalu ke sumsusm tulang belakang- dan  langsung bicara.
            Oh! Maksudku, tentang perasaanku itu.  aku –spontan- saja menjawabnya tanpa ‘berpikir’. Otak reptilku yang bicara. Karena situasi ini, membuatku tak bisa berpikir bening-lurus-terurai. Pasir di otakku, Keruh.
            “Oh, eh, ya…”
            “Aku tak bisa kembali lagi ke rumah ibu Ratija.”
            “I-i-iya tentu saja.”
            “Apartemen kita sedang diobrak-abrik orang-orang itu.”
            “Ah!” jadi benar, iklan ini mengundang kegentingan.
            “Kau… kau di mana sekarang?”
            “Aku diatas gerbong kereta. Ibu Ratija menyuruhku cepat lari. Barang-barangku telah dibuang semua. Semua file hasil belajar dan kerjaku ia pindahkan ke tempatmu. Dia dan adik-adik telah menghapus jejak keberadaanku di sana. Tanpa sisa.”
            Glek!
            “Kau, akan ke mana?”
            “Mencari gadis yang mengandung anakku.”
            “Apa…?!”
            “Hallo…? Hallo..?”
            “Kau mau ke mana?”
            “….”
            “Kau bisa mendengarku?”
            “…”
            “Yusuf! Yusuf! Berhati-hatilah… semoga Tuhan selalu melindungimu.”
            Kubuka kiriman emailku. Yah, aku dapat melihatnya. Ah besar sekali muatan filenya. Memangnya apa saja yang disimpan dan dilakukan Yusuf? Aku tak tahu kenapa ibu Ratija mengirimkannya kepadaku. Hidup bersamanya selama puluhan tahun, tidak membuatku pandai dan mengerti jalan pikiran ibu Ratija.
Tapi sepanjang perjalanan hidup kami, aku melihat keputusannya selalu benar.
Seperti keputusan ibu Ratija  yang  terakhir menampung Yusuf. Walaupun pada perjalanan berikutnya kami menemui skenario yang menyedihkan. Tapi  dengan menampung Yusuf,  ibu Ratija berhasil melahirkan ‘manusia baru’ yang jenius sekaligus berakhlak baik.
            Bagaimana mungkin  aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya? Sementara Yusuf selalu berbagi segala hal denganku lewat email dan smsnya. Ditambah dengan puja-puji ke tujuh adikku terhadapnya. Yusuf menjadi sosok yang menggoda rasa penasaranku.
            Aku mulai membuka emailku. Lalu membacanya dengan bergegas. Aku bisa merasakan jantungku berdebar tak berirama.
            Perutku mengeras. Kontraksi kecil kurasakan. Apa bayiku akan gugur?
            Tuhan, lindungilah dia…
Apa yang telah  Yusuf katakan?Dia akan mencari gadis yang mengandung anaknya?
            Yusuf  pasti sedang kacau sepertiku. Mungkin  kehidupan di apartemen sempit yang ‘melimpah’ anak-anak, membuatnya terobsesi untuk memiliki anak.
            Dia itu mansis. Dan mansis itu selalu steril!
            Perut ku kontraksi. Astaga nyeri sekali.

***


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Translator: