Rabu, 14 September 2016

TELELOVE 64

PUTRI. 21


DURI DALAM DAGING








“Ssssstttttttt…. rasanya aku merasakan gerakan mencurigakan.” Wanda menatapku curiga. Saat itu kami sedang makan malam berdua. Sementara si Boy bolak balik merapikan dan membersihkan rumah.
            Deg! Wanda curiga! Kuraba perutku yang tiba-tiba mengencang. Glek, karbohidratku kutelan tanpa dikunyah membuat aku tersedak. Huk... huk...
            “Ssssssttt… haassshhhaaahh.. “ Wanda melotot ke arahku, sepertinya dia marah ketegangannya dipecahkan oleh acara keselekku.
            Oh, apa dia tahu aku HAMIL? Yah tentu saja! Kami sekamar. Dia pasti memergoki sesuatu yang mencurigakan. Permen-permen asamku? Mungkin saat tidur, tanpa kusadari  aku kentut berkali-kali. Karena pencernaan yang kontraksi tidak semestinya? Muntah-muntahku?
 Oh demi Tuhan! Aku selalu berusaha rapi menyembunyikan mualku. Atau dia membaca SMS-SMSku  dengan pak Jan? atau dia tahu passwordku lalu mengacak-ngacak semua yang ada di sana? Dan mungkin kini dia akan mengajukan ‘negosiasi’? negosiasi dalam kamusku untuk subjek bernama Wanda artinya: PEMERASAN.
            Oh Wanda! Dia benar-benar duri dalam daging. Rahimku bergerak mual. Tapi aku harus  berlagak lapar.
            “Ssssssstttt… laki-laki palsu itu!” Wanda berbisik misterius, jantungku nyaris lupa berdenyut.
            “Apa?” syukurlah, ternyata bukan tentang bayi ini.
“ Laki-laki android itu. Si Boy. Robot itu.”
“Maksudmu, apa?” bisikku lega.
            “Kau ingat iklanmu yang kini popular?”
            Aku hanya diam. Oh sialan kau  Wanda! aku kira apa.
            “Kau tahu bagaimana kameramannya  bekerja?”
            Otakku mengkerut tak pasti. Ya adegan ajaib itu! Membuat pemirsa dan si bayi kembar saling menatap, seolah-olah pemirsanyalah yang menggendong si bayi! Otakku mengembang, pasirnya bergerak sesak..
            Kurasakan rahimku bergerak nyeri.
            Wanda mengangguk-angguk, matanya memberi isyarat,  berulang kali melirik si Boy yang hilir mudik membersihkan kamar-kamar.
            “OH!” aku mendengar suaraku menguik.
***

“Jadi, menurutmu, mata si boy itu seperti mata si Yasmin? Dipasangi sebuah kamera pengintai?” Bisikku dengan terburu.
            Wanda mengangguk sambil matanya mengawasi si Boy.
            “Menurutmu siapa kira-kira yang selalu memonitor hasil pantauannya?” aku sama sekali tak ingin menduganya, sekalipun pasir di otakku meneriakan sebuah nama.
            “Menurutmu siapa, bodoh? Ya pemiliknya! Aku sudah periksa di catalog dan baca spesifikasinya, kalau android tipe ini memiliki banyak keunggulan. Termasuk monitoring jarak jauh.” Wanda si gadis cerdas, menampakan bakatnya.
Uhuk! Uhuk! Aku benar-benar tersedak, terbatuk, terkencing, terkentut. Sekali lagi,  kamu harus mengerti, ini pasti terjadi pada wanita hamil yang perkembangan rahimnya mendesak kandung kemih, dan saluran pencernaan.  Oh Tuhan,  memangnya bayiku sebesar apa hingga mampu memompa kandung kemih?
            Aku cepat-cepat mundur dari ruang makan.
***

Di cermin berbingkai mahal, di kamar mandi kamarku yang berinterior Victoria, kutatap wajah kemelutku. Oh Tuhan! Berarti selama ini pak Jan…
            Melihatku tanpa jilbab! Melihatku bernyanyi-nyanyi sambil menari-nari, karena kukira aku melakukannya dengan sebuah Android? Melihatku tidur? Karena seringkali saat  aku bangun si Boy sudah ada di kamar dan sedang menatapku, menungguku dengan segelas susu. Dan aku menganggapnya biasa! Apakah Pak Jan juga melihat aku mencabuti bulu kakiku yang tumbuh panjang tidak semestinya? Pak Jan juga bisa melihatku menarik benang gorden untuk menjadikannya ‘dental floss’?
            Pak Jan juga melihat kegiatanku yang lain?
            O! oooooooooo!
            “Qon! Kamu kenapa?” Wanda menggedor pintu kamar berulang-ulang.
            “Wanda…” ku tarik tangannya. Lalu aku kunci kamar kami.
            Wanda nampak lebih santai.  Sementara aku bolak-balik bingung. Melihat Wanda yang santai tanpa beban, membuatku menjadi sebal. Bagaimana mungkin masalah segenting ini dia masih bergaya seperti kaisar roma di kursi tidurnya dalam sebuah pesta tak masuk akal jaman Romawi kuno?
            Kini aku mengerti kenapa pak Jan menginginkan Wanda ke luar apartemen ini.
            Karena pak Jan, melalui mata si Boy, telah mengamati dan tahu segala polah Wanda yang asli di apartemen ini. Kutatap Wanda dengan perasaan tak karuan, apa dia tidak memikirkan ini? Jangan-jangan kebiasaan mencuri atau memakai barang yang bukan haknya, terpantau oleh pak Jan juga!
            Aku yakin itu.
            “Kau mau bilang, pak Jan mungkin juga telah melihatmu telanjang?” tanyanya padaku.  aku melihat selintas senyum liciknya. Dia pasti bersorak karena ternyata aku telah mempermalukan diriku di depan si Boy android terkutuk.
            Android terkutuk? Haaaa... Tuhan tak mungkin menjebloskannya ke neraka, dia itu Cuma robot! Rakitan rongsokan dari seorang pencipta berotak miring.
            “Ah! Gila! Tentu saja aku tak segila itu, membiarkan ‘benda’ itu menatapku telanjang.”
            “Hahahaha… bagus! Memang sebaiknya kau sadar dan  malu dengan tubuhmu yang gagal berkembang itu.”
            “Wanda tapi…” aku belum sampai membuka adegan-adeganku yang lain saat Wanda bergaya di depan cermin. Hingga aku dapat melihat pemandangan kontras ini.
            Aku dengan wajah kemelutku. Wanda dengan wajah sumringahnya. Kadang-kadang –buatku- dia nampak tidak pas antara kejadian dengan penampilan. Tapi lalu aku mengerti saat dia mulai  mendesis-desis gila di depan cermin:
            “Kalau begitu, aku akan pura pura tidak tahu ‘ada benda android itu’ saat aku melintas dari kamar mandi ke dapur, lalu kemben andukku merosot, maka ‘penontonnya’  akan melihat bidadari aslinya.Bagaimana menurutmu, Qon?”
Tentu saja aku gemas sekali  melihatnya tersenyum iblis di cermin kami.
            “Qon…?”
            “Qon… kamu kan paling kreatif menciptakan adegan yang membuat orang gemas!”
            Oh Tuhan! kenapa aku harus serumah dengan Wanda dan si Boy. Dua jenis mahluk Gila yang berkombinasi menjadikan kerusakan kerja otakku semakin parah.
            “Qon…?”
            Wandaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

***


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Translator: