Kamis, 02 Juni 2016

Novel Dystopia Scifi. TELELOVE. Bagian 8. Kesit Susilowati

PUTRI. 3.
SANG BOLA BEKEL




“Gambar pertama,  seorang bayi menyusu pada seorang ibu yang gelisah memikirkan kesulitan hidup. Dia, ibu biologis, tapi hati dan pikirannya disandera oleh dunia. Kita gambarkan otaknya dengan isi gaya hidup, uang, fesyen, pesta gila atau pekerjaan gilanya yang lain yang bersifat matrealistis.”
Semua diam, menatapku, aneh, seolah mereka menemukan diriku yang lain:
 Qonita si otak ‘berdenyut’.
“Kamu sadar? Bukan citra kasih sayang yang kau tampilkan, tapi kita akan dihujani kritik sebagai iklan ‘batu bata’.” Bu Kim menggigit bibirnya, dia pasti mulai mempertimbangkan ideku.
“Qonita masih seorang gadis bos, dia tak tahu rasanya jadi seorang ibu.” Suara tenang Kamila, seperti membantu, tapi aku tahu maksudnya. Menurutnya, aku sama sekali tidak kompeten!
“Hah!” suara keras pak Rudi, terdengar lagi.
Seputar meja gelisah. Sistem pertahananku bergerak, waspada. Siapa tahu di ujung meja ini ada semburan api dari mulut besar bu Kim.
“Teman-teman, biarkan dia menyelesaikan penjelasan konsepnya!” Kamila tersenyum. Kini aku sadar, dia sengaja melakukannya, seolah-olah memberiku kesempatan, seolah-olah dia mendukungku, dengan menarikku ke dalam timnya. Nyatanya dia akan ‘membantingku’ kini.
Kalau itu tujuannya, akan kupastikan, dia akan gagal. Karena aku ingat pesan ibu Ratija yang rajin diulang-ulang sejak aku kanak-kanak. Pesan yang selalu ia berikan pada tujuh  adikku, kala mereka pulang, menangis karena di dera hinaan sebagai anak-anak cacat dari rumah yatim piatu, tepatnya rumah buangan.
‘Sabarlah, anggap saja dirimu sebuah bola bekel. Jika kau dibanting, bukan jatuhnya yang penting tapi pantulannya yang penting. Semakin dibanting, kau akan semakin melambung, karena Tuhan meninggikan derajatmu, tapi itu terjadi jika kau ikhlas.’
Aku harus membuktikannya! Bahwa aku si bola bekel!
“Gambar  ke dua, anak sapi yang bahagia dalam dekapan ibunya, karena keduanya saling ikhlas.
“Gambar ke tiga, Sapi yang menyusui bayi manusia. Keduanya setengah ikhlas. Merasa, adegan itu bukan takdir mereka.
“Gambar ke empat, seorang android, yang dilengkapi dengan sistem penyediaan ASI hygienis, penuh nutrisi, kehangatan pelukan, dan dimasukan dikolom pojok pemandangan ibu biologis yang ‘hebat’ di luar rumah.”
Ah!  gambar ke empat membuatku kacau. Aku sendiri aneh, entah darimana ide ini.
Tuhan, maafkan aku, sepertinya aku menghianati takdirMu tentang penciptaan ibu. Tapi aku sendiri tak mengerti, sepenting apakah ibu biologis itu? Karena aku hidup di tengah ketidakberuntungan anak-anak yang ditinggalkan ibu biologisnya.
Aku melihat tatapan seputar meja semakin aneh. Menatapku seolah aku manusia buatan  atau android versi terbaru di dunia ini.
“Hhhhmmm... gi-gimana sodara-sadara?” suaraku gugup terbata.
Mereka hanya diam.
“Bravo!” tak kusangka si suara berat, pak Rudi, memecah keheningan.
Aku menunggu reaksi di ujung meja. Bu Kim. Akan menjulur lidah apikah? Atau saweran kembang yang akan terlontar dari mulutnya?
Yang lain terburu merespon ide spontanku dengan memukul-mukul meja. Tanda salut yang berlebih. Kurasa mungkin seperti inilah rapat para bar-bar itu.
“Jadi? Jadi? Kalian suka? Bagaimana mungkin?” Kamila terlihat kaget melihat respon ramai yang menyambutku di seputar meja.
“Ke empat konsep ini kita tampilkan bersama. Jadi bukan kita mengarahkan penggunaan isi ulang ASI buatan ke dalam kantung android, tapi –setidaknya- kita memberi kesempatan pada mereka, calon konsumen,  untuk memilih.” Mendapat respon positif, suaraku mengalir bak air sungai tanpa hambatan.
“Kenapa? Itu bukan iklan! Dan kita tidak membuat iklan layanan masyarakat!” Kamila mulai terdengar berusaha  menyudutkan.
“Tanggung jawab moral.” Jawabku. Kurasakan pelukan ibu Ratija dalam bayanganku.
“Ha?” Kamila melirikku sinis.
“Jadi kau biarkan pasar ‘bermoral’, dan melihat iklan ini, lalu produk ASI isi ulang tak laku?” Pertanyaan Kamila disambut pukulan meja para senior lain. Respon absurd dari para seniman iklan.
“Setidaknya dengan menampilkan fakta yang ada, ini  membuat kita, saya, tidak merasa bersalah karena menghianati takdir sebagaimana Tuhan ciptakan rahim pada seorang perempuan. Dan sepasang payudara untuk menyusui bayinya.” Kataku dengan senyum ke arah Kamila. Senyumku tulus, senyum merasa menang atas dirinya. Tepukan para senior di atas meja seperti genderang perang yang menguatkan hati di medan peperangan.
“Taik kucing.” Cetus Kamila, tepat saat tepukan meja berhenti.  Membuat para senior  menengok ke arah Kamila. Kamila si wanita cantik lemah lembut, berkelas, santun dan  anggun, bisa bicara seperti ‘itu’. Apa katanya? Taik kucing! Oh...
Kamila menutup mulutnya. Tapi sudah terlambat.
“Oh?” si lidah api, bu Kim ragu. Aku merasakan api di mulutnya meredup. Entah tersumpal kata ‘taik kucing’, atau terpesona oleh paparan singkatku.
“Ya, bos, bagus juga, adik manis kita, Qonita, secara tidak langsung menjaga citra perusahaan kita di mata publik, sebagai pengusaha iklan yang menjaga moral.” Seputar meja mulai bersuara di pihakku.
“Yee!”
Aku mulai merasakan hembusan  angin sejuk.
“Tugas kita adalah mengenalkan produk baru.”
“Yee! Bukan menghasut masyarakat untuk menggunakannya.”
“Tapi para pengguna yang lain bisa putus dengan kita, karena kita ‘gagal’ membuat produk mereka laku.” Kamila sepertinya menyiapkan anak panah baru.
 “Ya bos, kita harus menjaga hubungan dengan para pengguna kita yang lain.”
Meja mulai ramai. Semua bicara tanpa ada yang diam, kecuali aku. Aku melihat si lidah api diujung meja. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja,  tanda dia sedang berpikir.  Atau sedang mengipasi api didalam mulutnya.

Aku lihat ujung meja yang lain. Pak Jan. pemilik kantor  ini. Orang terkaya di meja ini. Dan tentu saja paling tampan. Dia... dia... dia sedang melihatku. Me-na-tap-KU.


BERSAMBUNG......

Tidak ada komentar:

Translator: