Minggu, 19 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 25

PANGERAN. 10
HALLO!



10 Maret
Sebenarnya bila aku minta pada para ilmuwan itu,
Aku mau pesan pembuatan diriku seperti ini:
Pintar seperti seekor Kancil
Lincah seperti seekor Monyet
Cantik seperti Merak
Lucu seperti seekor Panda
Bijak seperti seekor Burung Hantu
Cerdik seperti seekor Rubah
Anggun seperti seekor Jerapah
Kuat seperti seekor Gajah
Memiliki keluarga seperti keluarga Lebah.
Seksi seperti seekor Cheetah
Tapi aku Cuma seperti ini
***

14 Maret
Sudah berapa lamakah aku lari? sehari? Seminggu? Sebulan?
            Pertanyaan bodoh! Karena percuma, aku waktu itu,  tidak tahu tentang waktu. apa itu hari, apa itu minggu, apa itu bulan. Yang aku tahu, pasti sudah lama sekali, karena aku harus melalui beberapa kali jadwal makan. Dan beberapa  kali aku mengklupas.
Hari hari  kulalui dengan ketakjuban pada dunia di luar Hutan buwatan.  Kini aku mengenakan ‘pakayan’.  Selembar jaket, dan celana panjang yang tadi aku tarik di salah satu tempat persembunyianku. Aku menatap kakiku. Seharusnya ada sepatu disana. Dan kepala ini seharusnya ditutup, agar orang-orang yang berpapasan denganku tidak melotot aneh bercampur takut saat melihatku. Jika penampilanku seperti itu, aku pasti hampir seperti manusia.
Kutatap tanpa kedip, lampu-lampu di kota memikatku. Lampu-lampu dijalan menghujankan cahaya di sepanjang keramaian. Gambar-gambar bergerak, itu pasti yang namanya iklan. Karena aku beberapa kali membaca pesan, harga, angka, dan gambar senyum ataw tawa pura-pura.
Yah, benar kata dokter Rut, dunia di luar hutan Buwatan sangat berbeda. Aku ingat lagi pesan-pesan dokter Rut:
‘Kau harus mengenakan pakayan, agar orang tak menganggapmu aneh ataw gila’
‘Kau harus –sopan-, ramah dan belajar mengendalikan laparmu. Dan yang  penting adalah kau harus bisa menahan keinginan makan serangga.’
‘karena begitu kau keluar dari sini, kau bagian dari mereka, kau harus belajar seperti mereka’
‘sekalipun itu menyiksamu’
‘jika kau tak bisa seperti –mereka- maka hutan buwatan lebih cocok untukmu’
‘tinggal kau pilih yang mana?’
Aku ingat jawabanku waktu itu:’Aku ingin ke luar. Melihat kehidupan luar.’
‘Bagus, maka, kmu harus belajar!’
‘karena belajar membuat otakmu berkembang lebih cepat.’
‘dan bila itu terjadi seperti keinginanku, tidak akan ada orang memperolok kita lagi.’
...
Semua pesan-pesan itu selalu aku hapal setiap hari. Entah kenapa. Pasti dokter Rut sudah memperhitungkan, bahwa swatu hari, dan hari itu adalah hari ini aku pasti bebas! Dokter Rut memang pintar! Mempersiapkan segala kemungkinannya.
Dokter Rut, aku berjanji, aku akan belajar. Lebih banyak. Lebih banyak lagi. Aku tak mau orang memperolokku. Seperti kemarin saat aku lapar dan mengambil buah-buahan di pinggir jalan, orang mengejarku dan meneriaku –maling-.  Tak bisa kubayangkan bila aku tak panday lari dan loncat, mereka pasti sudah menghabisiku. Menjadikanku bulan-bulanan. Mendapat hujan hinaan dan siksaan seperti yang pernah dokter Rut perlihatkan lewat alat TVnya yag kecil. Aku tahu, waktu itu dokter Rut memperlihatkannya kepadaku sacara rahasia. Ini pasti karena dia saying padaku, agar aku waspada bila ada di luar hutan buatan.
Aku diteriaki ‘maling’. Aku tak tahu salahku apa.
Dan besoknya aku mencari makan, aku di teriaki lagi –maling-. Aku di lempari lagi. Terpaksa hingga malam aku sembunyi, dan aku hanja melihat buah-buahan itu tergeletak saja tanpa ada yang mengambil. Memang kadang ada yang ambil, lalu orang itu memberikan –sesuatu- pada penjaga buahnya.
Dua hari ini aku mengamati buah-buahan ini, bila mereka lengah, aku ambil cepat-cepat karena aku tak mungkin menahan laparku terus, menerus.
Dan hari ini adalah hari  istimewaku, setelah hari bebasku.
Bgini dokter Rut ceritanya:
waktu tadi pagi aku –menjaga- buah-buahan itu, menunggu dan belajar semua yang berlangsung di depanku, dari tempat yang dokter sebut –observatorium-  (di atas sebuah bangunan yang pintunya selalu terkunci) aku melihat seorang anak kecil mengambil buah dan memberi sesuatu pada penjaga buah.
Oh  lucu.

Dia melihatku! Tapi aku tidak lari. Aku ingin tahu dia mau apa. Dan dia melihatku terus. Matanya indah sekali. Seperti mata KW3 yang bulat besar.  Lalu dari atas sini aku mengikuti mereka. Lalu  mereka masuk ke salah satu gedung.   Yang sering dokter Rut  sebut rumah susun. Lalu aku kehilangan mereka.


bersambung

Tidak ada komentar:

Translator: