Sabtu, 11 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 16

PANGERAN. 6
OPERASI



Tulisan ini aku tulis sambil mengingat-ingat kejadian yang telah lalu. Cukup lama.
Buku jurnalku tertinggal di hutan buatan. Jadi aku mulai lagi di buku jurnal yang baru.
Aku yakin, buku ini pasti berguna.

Terakhir aku menulisnya di akhir Februari.
Waktu itu, mungkin tanggalnya kurang tepat. Ah tapi siapa yang akan peduli tentang waktu? Aku sudah keluare dari hutan buatan!

Februari. Begini,
Sejak para penghuni baru, pemakan daging  itu datang, maka hutan Buwatan   yag damay ini kini penuh kegelisahan. Sesekali para ilmuwan itu mengutus seorang penembak jitu, untuk menembakan bius lalu membawa salah satu dari kami. Kata dokter Rut, mereka sedang mempelajari tingkat keberanian kmi suhubungan dengan program ‘teror’ yang mereka berikan.
            Sesekali dokter Rut muncul dan bicara denganku. Katanya, para ilmuwan itu sedang mencoba meningkatkan produksi adrenalin kami, mungkin untuk tujuwan produksi yang lebih besar, mungkin mereka pikir, adrenalin kami bisa menjadi  sumber pacu jantung baru bagi para atlit, atau orang jompo.
            Kmu jangan tanya: tentang  adrenalin, pacu jantung, dan apa hubungannya dengan orang jompo dan para atlit! Skalipun aku cuba tulis 2 x, di buku laporan ini aku tetap tidak paham.
            Kali ini para ilmuwan itu  akan membawa siyapa?
 Bisa saja yang tertembak itu aku. Jadi  aku harus lebih waspada, karena, pastinya mereka bukan hanya menginginkan contoh  darahku, tapi juga sel spermaku.
            Mungkin prosesnya akan lebih lama. Tempatnya bukan cuma di luar hutan Buwatan ini, bisa jadi di ruang lain, gedung lain. Karena bukankah sel spermaku harus diamankan dan selalu dalam keadaan segar? Seperti yang dokter Rut bilang.
            Tidak! Jangan sekarang aku belum menyiapkan rencana apapun untuk melakukan pelarian. Rencana? Kedegarannya aku seperti ‘seorang’ manusia. Aku begitu terpesona dengan kata –rencana- yang melintas di otakku. Hingga aku tak berdaya, saat jarum suntik berisi pembius tepat mengenai punggungku.
            Dasar manusia pengecut! beraninya menembakku dari belakang!
***

Rasa kantukku mengglayuti kelopak mataku. Begitu berat. Tapi aku masih dapat merasakan mereka memasangkan bebrapa alat di kepalaku. Bunyi detak berirama terdengar dari sebuah mesin. Seperti irama denyut jantungku.
            Siap? Tanya seseorang. Suaranya belum pernah aku kenal. Dia mungkin ilmuwan baru.
            Ya,  sepuluh miligram saja. Lalu aku mendengar yang lain menjawabnya. Suara itu juga aku belum pernah mendengarnya. Suara-suara itu terdengar asing.
            Denyut nadi? Itu suara  orang yang aku kenal. Temannya dokter Rut, yang selalu membawa catatan di samping dokter Rut.
            Normal. Jawab suara asing yang lain.
            Tekanan? Tanya suara wanita. Aku juga baru mendengarnya. Haa, sebenarnya ada berapa orangkah di ruangan ini?
            Normal. Jawab suara asing yang lain.
            Aku masih dengar mereka bicara, sampai semburan udara dalam selang yang terhubung dengan hidungku tak mampu aku tolak.
Aku tak dapat mendengar apa-apa lagi. Hanya gemuruh dengusan nafasku.
            Lalu aku merasa  melayang. Tapi bukan seperti burung yang terbang.
Dan aku terbnagun di tempat yang sangat indah, di sebuah surga hutan yang damay, tanpa penghuni yang menyukai sekali darah.
            Lalu seorang gadis menemuiku. Katanya dia adalah bidadari. Tapi dia tidak secantik yang aku bayangkan. Seperti gambar dalam majalah mode yang pernah dibawakan dokter Rut kepadaku.
            Dia cuma seorang gadis berkulit hitam, dengan wajah bayi, rambutnya merah keriting, dan bibir yang tebal, pesek, dan yang menonjol, hidungnya pesek, seperti kera.
            Tapi buwatku, si bujang bersisik, bertemu dengan seorang gadis, orang normal, cukuplah hebat.
            Sebuah hadiah terindah, mungkin aku harus berterima kasih pada dokter Rut karena telah mengijinkan aku bertemu gadis, orang  ‘normal’.
Aku tahu ini hanya mimpi.
***

Kubuka mataku. Kudapati aku terbaring lemah di tempat yang aku benci. Ruang operasi.
            Hallo Sebelas! seorang ilmuwan, yang aku hapal wajahnya menyapaku. Senyumnya terlihat nakal dan menggoda.
Cis!
            Bagaimana tidurmu? Mimpimu indah bukan? Tanyanya meledekku
            Mimpi? Ya itu pasti temuan mereka yang paling baru. Mungkin saat aku tidur tadi mereka melihat mimpiku. Jangan Tanya padaku bagaimana caranya!
 Oh! Jadi kini aku sebagai kelinci percobaan  mereka?

            Dokter Rut! Di mana dia? Biasanya dia slalu ada di sampingku bila saat-saat seperti ini. Tentu saja aku hanya bicara dalam diri. Aku ini bisu.



bERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Translator: