Sabtu, 11 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 15.

Putri. 5
RUMAH SUSUN  






“Kebakaraaaaaannnnnnn...!”
            Aku menengok berlari sambil menengok ke arah belakang. Astaga, aku melihat mereka. Mengejarku dengan motor. Kucari jalan-jalan berkelok. Aku berlari sambil menjatuhkan apa saja di depanku, untuk menghalangi mereka.
            Hingga sampailah aku di sini, di persimpangan jalan raya. Sorot lampu kendaraan yang melintas menghujan pandanganku. Membuat pengelihatanku hanya menangkap bayangan gelap yang bergerak cepat.
            “Brengsek!” hujan teguran keras, kasar padaku mulai aku sadari karena aku berdiri mengganggu jalan ini.
            “Qonita? Masuklah!” sebuah mobil sport,  berdecit tepat di sampingku. Mobil dibelakangnya menabraknya.  Lalu mencari jalan sendiri, ke samping.  Tak lupa dengan kiriman sumpah serapah dan kutukan pengemudinya.
            Aku lihat pria  yang duduk dalam limousine itu. Pak Jan!
            Tanpa ragu aku masuk, pak Jan dengan cepat tanggap  langsung memberinya komando pada si supir.
            “Cepatlah! Aku dikejar penculik!” kataku menepuk-nepuk punggung kursi supir tak sabar.
            “Haaa?” pak Jan nampak melihat bagian belakangnya melalui spion.
Si supir dengan trampil  melirik navigator otomatisnya, mencari jalan terpendek, dan memutar jalur memasuki jalan sempit.
            Pak Jan mengacungkan botol air mineralnya padaku. Aku cepat meraihnya. Baru kusadari betapa hausnya aku setelah berlari-lari tadi. Oh, terima kasih Tuhan, kau telah menurunkan malaikat penolong yang tampan padaku.
            Bip-bip. Penyerentaku berbunyi.
            “Qon...?” suara cemas ibu Ratija.
            “Ya, baik-baik saja ibu. Ibu jangan khawatir. Sebentar lagi saya pulang.”
            “Oh, tidak, jangan! jangan pulang! Kau tahu akibatnya jika menyalakan alarm bahaya tanpa sebab? Kita akan kena sanksi penjara! atau seluruh orang  di sini akan mengeroyokmu gara-gara kau bunyikan alarm gila itu.”
            “Haaaaaaaaaa?!”
            Deg! Semua orang dari beberapa gedung mengincarku? Tuhan kenapa kau coba aku dengan kehebohan seperti ini? Dari pagi aku telah Kau uji untuk berlari cepat menghindari penjahat.
 Lalu lift yang nakal itu, hingga aku terpaksa menaiki tangga hingga lantai delapan. Malam ini, dimana segala ototku telah lunglai, Kau masih memaksaku untuk berlari  lagi.
            Atau Tuhan sedang mengirimi aku pertanda, agar aku banting setir dari pekerja magang di perusahaan iklan: Citra Indah.co menjadi seorang sprinter?
            “Ke mana arah rumahmu?” tanya pak Jan tenang.
            “Oh, rumahku di sektor yang kita lewati tadi.”
            Pak Jan  mengkerutkan kening. Oh Tuhan aku harus bilang apa?
            “Aku tak bisa pulang.” Kataku lemah.
            Keningnya tambah berkerut.
            “O-orang-orang menungguku untuk mengeroyokku.” Suaraku semakin kecil.
            Alis mata pak Jan  naik.
            “A-aku menyalakan alarm kebakaran di semua gedung rumah susun wilayahku.” Aku mulai menggigit kuku jempolku.
            Mata pak Jan membesar. Kepalanya pasti berbunyi: ‘ASTAGA!’
            “Baiklah, menginap saja di rumahku.” Katanya datar.
            Oh, menginap di rumahnya? Apa aku tak salah dengar?
            “Tidak apa-apa kan?” tanya pak Jan hati-hati, pasti dia ragu dengan ajakanya karena aku gadis berjilbab.
            Cepat-cepat aku menggeleng. Maksudku, tentu saja tidak apa-apa. Memangnya di mana lagi ada rumah yang mau menampungku, di jam malam seperti ini?
            “Jadi kau akan menginap di mana?” tanya heran. Dia pasti bingung dengan gelengan kepalaku.
            “Di rumah bapak,” aku menengok kesamping, tersenyum, memohon maklum.
            Dia menarik nafas. Aku tak tahu dia ‘lega’ dengan jawabanku, atau sekedar memenuhi kebutuhan oksigen tubuhnya.
            “Kita pulang Boy.” Dia menepuk tangan supir di depannya.
            Ah! Boy! Itu sebutan baku bagi para majikan pada android mereka.  Manusia robot yang dirancang sebagai pembantu atau teman kita.
            “Dia adalah separuh jiwaku, Qon.”
            Aku bingung. Separuh jiwa? Hahaha... memangnya selain jadi kacung, dia, si Boy itu,  itu seperti istrimu ya?
            “Boy, Ini Qonita, kawan baru kita.”
            “Hallo Qonita, senang berkenalan denganmu.” Suara robotnya yang sangat standard terdengar.
            “Hallo... juga...”  aku harus bagaimana ngakak? Dia itu bukan manusia, tapi lagaknya sok jadi mahluk sosial.
            “Hahahaha... dia tampan bukan?” tanya pak Jan. Huh, ternyata dia mentertawakan kecanggunganku berinteraksi dengan seorang Android.
            “Yah, dia nampak lebih tampan, lebih muda, dan seksi dibanding bapak.” Kataku jujur. Tapi aku menyesal setelah mengucapkan kata-kataku itu. Apalagi melihat tawa pak Jan berubah menjadi senyum, lalu bibirnya menjadi datar, berikutnya melengkung keki.
            Pak Jan mengerutkan wajahnya.
            “Yipiiiiiiiiii...” si Boy sok-tersanjung-. Tapi tetap saja gayanya canggung.

***

BERSAMBUNG.. 

Tidak ada komentar:

Translator: