Jumat, 10 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 13.

Putri. 5
RUMAH SUSUN  



Bagi penghuni rumah susun kumuh, seperti kami,  menjelang Magrib lebih disibukkan oleh rutinitas seperti:  menyalakan lampu, menyalakan penghisap udara, agar udara bau yang tak sehat ini enyah dari apartemen. Khusus di tempat kami, kamu bisa dengar suara komando lain seperti ini:
           
Peringatan 1: “Cepat belajar! Sebelum mereka mematikan listriknya!”
            Peringatan 2: “Qonita, isi semua bak air, drum, ember-ember! Sebelum mereka mematikan aliran airnya!”
            Peringatan 3: “cepat pasang penghisapnya agar semua udara kotor, segala bau  dan nyamuknya keluar dari  sini!”
           
            Itu adalah suara ibu Ratija. Suaranya seperti mesin bersuara  otomatis. Berbunyi  setelah kami menjalankan solat Magrib berjamaah. Di dapur yang sempit, aku hanya bisa tersenyum melihat bibir Muti yang mungil bicara tanpa suara, seolah dia sedang akting, sementara ibu Ratija mengisi suaranya.
            Kami telah  hapal dengan komando yang dikumandangkan selepas magrib ini. Mengingat di hunian apartemen ‘kumuh’ ini,  listrik hanya menyala  antara jam 18.00 sampai jam  22.00.
            Sesuai dengan anjuran pengurus wilayah, agar kami lebih hemat, dan bertindak efesien. Agar para kunang-kunang yang berhasil ditemukan ‘kembali’ dapat berbiak sesuai kehendak alam tanpa terganggu cahaya terang, yang membuat sinyal bercinta mereka terganggu.  Dan mungkin melindungi para nokturnal liar yang lain.
Kenapa peraturan lain bisa berbunyi, hunian kelas 1 bisa mendapat akses listrik 24 jam/hari, dengan alasan, sektor itu ditempati para petinggi negara, kelas eksekutif, para CEO, para pesohor penting. Mereka menggolongkan orang-orang itu sebagai manusia produktif yang harus difasilitasi guna kelancaran segala urusan.
            Sedang hunian kelas 2, dapat jatah listrik 16 jam/hari, hunian kelas 3 , 10 jam/hari. Dan  sisanya hunian kami hanya 4jam/hari. 
            Itu hanya omong kosong, karena jika dihitung secara matematis, jelas, sektor rumah  susun kumuh yang luas, dengan panel-panel suryanya penyumbang  listrik yang cukup besar  bagi pemerintah daerah.
            Mareka tahu meski kami dalam keadaan gelap gulita, tapi kami tetap terhubung satu sama lain lewat dunia maya. Sehingga mereka harus tetap mewaspadai gerakan kami. Mengintai kami lewat satelit-satelit mereka, berjaga-jaga saat suatu topic memanas satelit mereka langsung menyampaikan grafik analisa psikosocial yang sudah diseting dengan metode statistik yang otakku tak kan mampu mencernanya, sekalipun cuma permukaannya saja.
            Mereka harus  waspada, karena kebanyakan keributan kriminal, pemberontakan sosial, berasal dari kantung-kantung kumuh seperti tempat kami.
            Air, adalah hal terpenting lain. Mereka membuat air menjadi senjata yang paling aman. Keributan apapun di kota-kota super padat negeri  ini, dapat dipadamkan oleh tindakan ‘padamkan aliran airnya’.
            “Kak Qoni, airnya mati!” terdengar  teriakan  Mufti. Dia dengan wajah nelongso memandangi cucian perkakas yang menumpuk.
            Dengan gemas, kusambar kotak peralatanku. Hal seperti ini biasa terjadi, satu gedung kehabisan atau dibajak aliran airnya. Biasanya terjadi kenakalan di lintasan pipanya. Biasanya kami akan saling menyalahkan sampai terjadi rusuh antar gedung.    
Aku menengok ke arah ibu Ratija. Dari sebelas orang yang tinggal di rumah ini tak ada seorangpun yang layak berlari menuruni tangga mengejar  waktu sebelum aliran air dimatikan, selain aku.
 Ibu Ratija yang usianya 60 tahun terlalu lemah melakukannya. Di usia hidup rata-rata penduduk yang 45 tahun, dia sudah termasuk ‘panjang umur’. 
Jadi kau dapat bayangkan kondisinya yang sangat wajar. Tabung oksigen yang selalu ada di sekitarnya, karena bu Ratija menderita asma permanen akibat polusi permanen. Mata yang rabun, telinga yang tuli akibat bekerja bertahun-tahun di samping gemuruh mesin.  Kaki tiga penopang tubuhnya karena bu Ratija juga menderita osteoporosis, lebih karena akibat gangguan estrogen dampak dari obat-obatan hormonal.
            Jadi  mustahil bila ibu Ratija pergi memeriksa saluran. Bagaimana dia melihat letak kebocoran pada pipa, atau sistem kontrol  dengan mata rabunnya? Bagaimana dia mendengar bunyi aliran air di pipa  dengan telinganya? Bagaimana dia berlari?
Maka akulah yang memeriksa air . Karena aku gadis sehat, kuat, berani, nekad, perkasa, penolong, pokoknya semua yang terdengar seperti ‘seorang gadis super’. Tentu saja, AKU! Karena sembilan penghuni yang lain masih berumur dibawah 12 tahun, selain itu diantara mereka juga ada yang cacat sejak lahir.
 “Aku berangkat, bu.” Pamitku dengan  keras, mengingat alat pendengaran ibu Ratija telah rusak. Alat itu, kabel itu, hanya menjadi asesoris  belaka. Jangan tanya aku, ibu Ratija mengikuti gaya preman mana, memakai  asesoris seperti itu.
Tanpa menunggu jawaban ibu Ratija,  aku pakai sepatu catsku.
“Hati-hati selalu, Qon. Perasaan ibu tak enak,” terseok ibu Ratija menghampiriku.
“Ya, bu.”
“Qon?!” di luar pintu teralis kami, ibu-ibu telah siap dengan aneka alat. Termasuk pentungan. Karena bila aliran air mati,  bisa saja ada hal serius. Ada penjahat yang harus diwaspadai, ditakuti.
            “Ya siap.”
            Berderap kami menuruni anak tangga. Kami benar-benar harus disiplin mengikuti protokol keamanan. Bergerak cepat, bergerombol selalu di malam hari. Agar jika sesuatu terjadi, kami bisa menghadapinya bersama.
            “Semestinya, setiap wakil keluarga di gedung kita mendapat pelatihan militer atau keamanan ya?”
            “Ya.”
            “Buat apa? “
            “Menghadapi para kriminal malam.”
            “Paling cuma geng motor, atau para android cacat atau para mutan atau para manusia buatan,  yang memboikot aliran air, jadi besok kita kekeringan, dan orang-orang yang ronda malam ini dilempari kutukan segedung. Hehehe.”           

            Para wanita gedungku bicara sambil bergerak menuju gardu air.



BERSAMBUNG 

Tidak ada komentar:

Translator: