Rabu, 15 Juni 2016

TELELOVE 21

Putri. 9
SANG BINTANG



Cahaya bintang di angkasa dan cahaya kunang-kunang
 di depan mata apalah bedanya?


“Kita hampir sampai. Pak.” terdengar suara kaku Boy si  android dari balik kemudi membangunkanku. Tanpa kusadari aku tertidur dan bersandar pada pak Jan. setelah malam yang melelahkan dan sarapan yang mengahangatkan perut. Terayun-ayun di mobil, suhu yang nyaman, aroma parfum pak Jan, suara music terapi, bagian mana yang patut disalahkan bila aku jadi tertidur?
“Ma… maaf pak..” tentu saja aku salah tingkah tak karuan. Pasir diotakku rupanya segera gaduh setelah ikut tertidur. Hebatnya mereka begitu kompak koor ‘malu… maluuu… maluu… maluuu...” kurasakan hangat wajahku. Bisa dipastikan aku merona malu. Aku beriingsut duduk membuat jarak. Kulihat pak Jan tersenyum maklum.
 “Jangan! jangan parkir dulu, jangan sampai ada orang di kantor ini melihat kita datang bersamaan.” Suaraku terdengar menguik panik.
Pak Jan menengok ke arahku, alisnya mengangkat tanda ‘kenapa’, aku tahu bahasa tubuh dan mimiknya, karena aku biasa bergaul dengan ABK[1] di rumah.
“Kita harus menjaga imej, agar mereka tetap berpikiran positif, bukan?” kataku mencari kalimat yang tepat.
Pak Jan mengangguk mengerti.
“Jangan sampai citra bapak rusak gara-gara saya...” kataku canggung.
“Oh, siapa yang pedulikan ini? Zaman gila ini, Orang pulang pergi, entah teman atau pasutri, atau pasangan selingkuhan, bahkan pasangan homo, siapa peduli?”
“Saya! Saya takut akan fitnah.” Oh... Fitnah yang manis, kita disini seperti pasangan kekasih. Pasir diotakku mulai berdesir, menerjemahkan bahasa syetan. Karena jatuh cinta padanya, mungkin jenis cinta buta, dalam waktu semalam aku menjadi seorang munafik.
“Oh? Kamu takut orang memfitnahmu, kita sebagai ‘pasangan’... hahahaha.”
Tawa pak Jan membuatku merasa –agak- terhina.  Yeah walau tawanya ‘nyata, waras, wajar, masuk akal’.
“Bukan pak, saya takut, mereka memfitnah, sekarang saya  sudah menjadi pembantu baru di apartemen bapak.”
“Oooooh... kau ini! Berarti bukan citraku sebenarnya yang kamu khawatirkan. Tapi citra kamu.”
Aku mau bilang apa, dalam semalam, dia nyaris pandai membaca pikiranku.
Aku lirik wajah manyunku. Ho-oh, mana mungkin wajah yang mancung di bibir dan jidatnya ini bersanding dengan mahluk berkelas seperti pak Jan.
 “Baiklah, terserah kamu. Boy turunkan Qonita  di luar area kantor ini.” Pak Jan mengangkat dagunya. Android yang menyupir itu mengangguk mengerti.
“Oke bos.”
“Yayayaya itu lebih baik.”
Tapi terlambat, Saat mobil ini bergerak memutar, nyaris menabrak seorang gadis dengan bawaan barang-barang terjatuh gara-gara haknya patah.
Gadis itu Kamila. Kamila  melihat aku duduk di samping pak Jan.
Lalu entah syetan nomor berapa yang memberikan komando padaku: ‘tersenyumlah yang anggun, perlihatkan kau sebagai wanita yang ‘bahagia’.
Sepintas, aku bisa melihat seriangai iblisku lewat spion.
“Ups, Kita sudah terlambat.” Pak Jan tersenyum manis padaku. Aku rasa syetannya sedang berkonspirasi dengan syetanku menyuruh kami tersenyum ‘seperti’  pasangan bahagia. “Biarkan kami turun bersama di plaza, Boy.”
“Oke bos.” Suara si Boy bernada robot. Oh Boy, andai kau tahu kacaunya diriku, apa kau  tadi melihat seringai iblisku, bukan tawa bahagia.
“Tak usah khawatir, temanmu itu tak bisa melihat kita. Kaca mobil ini tak tembus pandang.” Pak Jan pasti sedang melihatku seperti seorang gadis bodoh.
***

Maka saat aku memasuki ruang kerja, aku telah bersiap melihat atau mendengar olok-olok dari teman-temanku.
            Tapi yang kuhadapi –ternyata- semua sibuk seperti biasa. Tak ada sahutan suitan, atau siulan godaan sebagaimana perkiraanku.  Yah tentu saja, aku kan di lingkungan orang dewasa. Bukan di lingkungan remaja tidak stabil.
Aku lihat Kamila pun nampak tenang. Syukurlah, ternyata Tuhan masih menyelamatkan aku dari bahaya fitnah, walaupun menurutku fitnahnya terdengar manis.
            ‘waaaa, anak bawang kita datang dengan bos besar! ‘
            ‘ Pasti telah terjadi sesuatu yang –manis-’
            ‘Taruhan, kau bermalam di tempatnya?’
            ‘Kok tahu?’
            ‘Bajunya, itu kan kostum –rumah-’
            ‘emang dia tiap hari penampilannya begitu.’
            ‘wah kalo gitu semalam -sesuatu yang gila- telah terjadi’
            ‘Alamak bagaimana mungkin si Nongnong itu menggoda lelaki berkelas?’
            ‘Justru pusat -kesaktian peletnya- ada di nongnongnya.’
            ‘Wah dukun mana yang bisa implant susuk plus silikon di jidat?’
            TAP! Riuh rendah suara kacau yang berseliweran di kepalaku berhenti. Seperti biasa, aku mengalami serangan dilusi. Suara ribut itu hilang begitu aku membaca email pertamaku dari Kamila. CC pak Jan dan bu Kim pula.
 Ini baru NYATA:
            ‘Tolong konsep iklannya dikirim ke bos besar. SEKARANG!’




BERSAMBUNG



[1] ABK = anak berkebutuhan khusus.

Tidak ada komentar:

Translator: