Senin, 13 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 18

PUTRI. 7
MENARA PERSEMBUNYIAN




Seperti dugaanku, apartemen pak Jan terletak di pinggiran kota. Daerah ekslusif. Wilayah seperti ini pasti memiliki system  keamanan tingkat tinggi. Tampilan apartemennya pun dibuat unik. Apartemen pak Jan adalah gedung bertingkat yang menyerupai telur yang lonjong.
 Aku diam saja mengikuti langkah  pak Jan dari belakang. Isi kepalaku masih bergerak panik tak karuan. Kukira jika benar isi kepalaku ‘hanya’ pasir, berarti, kini sedang terjadi badai pasir di dalamnya.
Buk!
 “Ma-maaf...” tanpa sengaja aku menabrak punggung pak Jan. Ini pasti karena aku melamun. Pak Jan berbalik.  Wajahnya tersenyum maklum. Dia mungkin tahu kepalaku sedang dilanda badai pasir.
Pak Jan menapakan telapak tangannya pada logam yang terletak disamping pintu. Pintu bergeser secara otomatis. “Ini apartemen saya. Kau bisa pakai kamar tamu ini untuk sementara.”  Katanya berjalan sambil menunjukan kamar untukku.
Belum selesai aku tercengang dengan tempatnya yang ‘hebat’, kini aku memasuki kamar tamu. Tempat aku akan menginap. Sebuah kamar berukuran 4m x 4m.
Pak Jan memijit dinding untuk membentangkan tempat tidur secara otomatis. Wah, sungguh berbeda dengan tempat tidur di kamarku, yang harus ditarik dari dinding dengan sekuat tenaga.
“Jika kau ingin membersihkan dirimu, kau bisa menggunakan ini, ini. Silahkan.” Pak Jan menunjukan kamar mandi dan lemari penyimpanan.
Wah! Kamar mandi di dalam kamar! Dengan lemari handuk! Dengan bau harum! Berbeda sekali dengan di apartemen kami. Kamar mandi sempit untuk memandikan 2-3 anak sekaligus, dibawah pancuran air yang selalu membuat berdebar-debar, takut alirannya mati tiba-tiba.
Aku begitu takjub melihat kemewahan yang sangat modern. Sempat aku intip selintas wajah bodohku di cermin kamar mandi. Oh, kuatur lagi wajahku. Aku harus ingat, aku ada di dekat pak Jan.
Jangan kampungan, jangan memalukan.
Aku buka airnya. Dingin. Hangat. Harum. Oh-oh! Air di jam sepuluh malam! Aku langsung menyipratkan air di wajahku.
“Terima kasih Tuhan.”
***

Bip. Penyerentaku berbunyi.  Ku lihat penghubungku. Pasti Ibu Ratija. Ya memang siapa lagi yang akan menghubungiku malam-malam. Siapa lagi yang akan mengkhawatirkan aku, selain dia?
            “Qonita?” Suaranya berbisik.  Dia pasti menjaga peristiwa ini dari anak-anak agar mereka tak khawatir.
            “Ibu, aku baik-baik saja. Bosku kebetulan lewat, dan dia membawaku lari. Sekarang aku di rumahnya. Aman. Ibu jangan khawatir.”
            “Apa?”
Oh kenapa aku sampai lupa bila ibu Ratija  kadang-kadang pendengarannya kurang? Belum lagi akibat gangguan sinyal.
“Di rumah bosku.” Teriakku di depan penyerenta.
            “Haaa? Bosmu? Apa dia sudah berkeluarga?” Tanya bu Ratija diseberang sana,
            “Tidak tahu.” Semoga saja dia masih lajang! Tuhan oh Tuhan! Spontan saja batinku menggemakan doa.
            “Apa?” Tanya bu Ratija tak percaya.
            “Dia tinggal dengan ‘Boy’nya!”
            “Apa! Dia di sana sendiri?”
            Aku mulai mendengar kekhawatiran lain. Ada nada cemas dari pita suara berumur bu Ratija.
            “Qonitaaaa... kau tahu artinya? Di tempat asing? hanya berdua dengan lawan jenis?”
            “Ya! ibu tak usah khawatir! Ada Boynya! Justru dia yang harusnya khawatir! karena mengundangku menginap!... hehehehe.”
            “Qonita...!”
            Disaat yang sama aku lihat pantulan pak Jan di cermin.  Hah? Apakah dia mendengar pembicaraan kami? Yah tentu saja dia pasti mendengar. Dengan jelas, karena aku melakukan dialog dengan berteriak, serta pintu kamar yang belum aku tutup.
            Pak Jan  tersenyum geli  padaku. Amboy manisnya. Tapi,  apa dia kini dia baru sadar dan mulai melihat aku sebagai ancaman? Dengan perlahan pintu kamar kututup.
            “Qonita...? baiklah kalau begitu, ibu percaya padamu, tapi kau janji harus  menjaga kepercayaan itu. Jangan pulang, sebelum semuanya tenang.”
“Lho, ibu gimana sih? Katanya tadi cemas aku menginap di sini? Tapi sekarang melarangku pulang?”
            “Besok biar aku minta tolong tetangga untuk mengantarkan baju gantinya ke kantormu. Ingat, jangan pulang! Keadaan semalam  sungguh kacau. Hingga aku tak berani menghubungimu. ” suara bu Ratija meralih melirih.
            “Ya ibu! ibu harus hati-hati juga!” Ah tahukah dia, bahwa aku sedang menjadi incaran penculik?
            “Tidak, kau yang harus hati-hati. Waspadalah selalu. Terutama dengan bosmu itu.”
            “Ya.”
            “Apa?” seperti biasanya, dia mengulang dengan pertanyaan, agar aku tidak salah paham atau mengerti.
            “Aku akan berhati-hati dengan bosku!” astaga, aku teriak lagi.
            Penyerentaku hening.
                                                                               ****



Bersambung


Tidak ada komentar:

Translator: