Sabtu, 18 Juni 2016

TELELOVE. Bagian 24

PUTRI. 9

SANG BINTANG




Ya aku sangat mengerti. Kubuka dompetku, dan kutambahkan beberapa kupon makan, kupon air, dan kupon listrik ke dalam satu amplop, juga kupon sosial. Serta sedikit uang yang ada di dompet.
            “Wanda, aku minta tolong, dengan serius, dan kontrak kerja yang jelas, tolong, gantikan aku di rumah dalam beberapa hari. Kau bisa berikan ini untuk ibu-bapakmu sebagai bukti kau ‘menghasilkan’.”
            “Kau membuat aku malu, Qon.”
            Ah! Dia pasti basa-basi. Ampun Tuhan, atas sinismeku ini.
            “Selama kau tidak mengingkari Tuhan dan cara kerjanya, kau tidak perlu malu.” Kusisipkan beberapa lembar uang, yang aku hitung, cukup untuk makan dia selama satu minggu.
            “Wanda, terima kasih sekali, hanya Tuhanlah yang mampu membayar semua kebaikanmu.”
            “Kau baru saja memberiku upah.”
            “Yah, supaya aku tidak terlalu malu karena membebanimu. Tolonglah, berikan semua ini untuk ibu Ratija. Katakan aku segera kembali, tapi entah kapan.”
            Ya, aku tidak tahu. Kenapa  urusannya menjadi seserius ini. Aku tidak tahu apakah ini musibah, ujian, atau anugerah, karena semua ini, menyebabkan aku akan tinggal di rumah ‘mewah’ pak Jan, pria yang membuat aku jatuh cinta,  untuk waktu yang aku tak tahu.
***

Bip!  Bunyi penanda mengobrolku diujung monitor, membuyarkan lamunanku tentang rumah, iklan, android, pak Jan.
            Pak Jan : Sudah malam, kau tak pulang?
Deg! Jantungku nyaris berhenti, ini alamat email bos besar.  pak Jan!  Hoi... sodara-sodara! Ini pak Jan menghubungiku! Melalui akun pribadiku!
Aku : maaf pak,  masih banyak yang harus aku kerjakan.
Pak Jan: Pulanglah! Kulihat kamu Cuma bengong-bengong-bingung.
            Wah! Pak Jan  memperhatikanku! Kulirik ruangannya yang terletak diatas ruanganku. Tertutup. Aku celingukan dan mataku terpana melihat kamera pengintai di sudut ruang ini.
Haaaa, tentu saja dia sedang mengamatiku dari kamera pengintai. Dasar curang! Berarti dia tadi melihat aku bermain ‘saat Berbie berpesta’  permainan termuktahir yang baru aku unduh itu. Pak Jan melihat permainan itu juga... ? Astaga!
Kutebak dia pasti mentertawakan aku,  melihatku celingukan.
Pak Jan: Kerjakan saja di rumah. Si Boy sudah menunggumu.
Hahaha, maksudmu, dirimu yang tak sabar menungguku? Kurasakan euphoria pasir di kepalaku. Dasar penghayal! Kutepuk dahiku beberapa kali agar semua pasir itu diam.
Aku: Maaf, silahkan bapak duluan. Saya belakangan. Saya akan pakai Kereta. Trims
Pak Jan : Jangan Bodoh! Kau sedang diincar, tidak bisa pulang, dan kamu ga bisa masuk rumahku tanpa tanganku.
Hooo tentu saja pintu berkunci sidik jari itu!
Pak Jan : Dan kamu tak bisa pulang membawa seransel penuh baju-dan berkas-berkasmu.
Hoooo... kenapa tak ada alasan aku menolaknya.
Pak Jan : Hallo...?
Aku : Ya, pak.  Saya  segera berangkat. Saya  tunggu di depan kios depan kantor.
Pak Jan : Ha?
Aku : Hmmm, masih banyak orang. Aku tak mau kejadian pagi, terulang lagi sekarang.
Pak Jan : Ha?
Aku : Jangan sampai *kebersamaan* kita menimbulkan gossip.  Kukirimin dia gambar emoticon takut, bingung, waspada.
Pak Jan : Ha! yayayaya... jangan samapai teman-temanmu mengira kamu pembantuku ya?
Aku : kukirim dia emoticon tinju.
Setelah ketikan terakhir terkirim aku menyesal, kenapa aku menjawab –bos besar- dengan aneka simbol tak jelas seperti itu sebagai wakil dari segala sumpah serapahku?
Aku segera membereskan semuanya yang berserak di mejaku. Gambar-gambar primitifku. Pinsil warna. Kumasukan ke dalam laci. Kumatikan komputerku, laptopku. Memberekannya semua. Tapi aku tak melihat pak Jan ke luar dari ruangannya. Kurasa pak Jan pasti ke luar setelah melihatku berangkat, dia akan tahu melalui kamera pengintainya.
            Bip! Penyerentaku berbunyi. Ibu Ratija.  Aku menerimanya sambil berjalan.
            “Assalamualaikum. Kamu sudah di mana, Qon?”
            “Waalaikum salam, bu. Aku masih di kantor.” Aku sangat berharap dia menjawab ini: ‘Pulanglah! Semua sudah aman.’ Tapi kemudian aku hanya mendengar suaranya yang parau, lemah, dan khawatir.
            “Jangan pulang!” seperti biasa, pendengaran ibu Ratija terganggu.
“Kata Wanda, kamu ada dalam bahaya serius. Komplotan yang mencarimu adalah komplotan Kupu-kupu! Itulah kenapa aku mengirimkan baju-bajumu lewat Wanda.”
            Suara bu Ratija berbisik cemas. Jadi benar gang yang mencariku adalah gang Kupu-kupu? Gangster yang dikenal karena ‘rekanan-nya’ hanya dari golongan elit tertentu saja. Satu-satunya gangster yang menjalin hubungan dengan lembaga intelejen Negara. Tapi juga ganster yang paling rapi dalam menjalankan manajemen kapital ilegalnya.
            Menurutku, lembaga yang paling lengkap sumberdayanya adalah mafia semacam ini. Kau bisa menemukan seorang ilmuwan sain, sosiolog, politisi, sampai paranormal didalam daftar rahasia keanggotaanya.
Jadi sesuatu yang serius sedang terjadi. Hooooooo... jadi aku harus lari ke mana?
            “Hallo… hallo.. Qon?” suara ibu dengan volume mengeras membangunkan alam jedaku.
            “Tidak ada pilihan lain, mungkin kau harus menginap lagi di rumah bosmu. Bisakah ibu meminta nomor penyerentanya?”
            Kuketikan nomor smartphone pak Jan.
            “Ya, sudah.” Bip, aku dengar panggilan lain. Pak Jan.
            “Oh, Bu, maaf ada panggilan dari bos, nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum”
            Sambungan pada ibu Ratija aku matikan. Aku tahu percuma bercakap dengan dia seperti ini. Sering terjadi salah sambung karena pendengarannya yang kurang.
“Qon... Dimana? Aku sudah di depan kios!” suara pak Jan terdengar.
            “Oh ya... Saya baru lewat halte.” Aku bisa melihat mobil van mewahnya.
            “Oh... ya. Hai Qon... Qon...! Awas...!”
            “Apa...? “ Hhhmmpphh’ tiba-tiba saja seseorang menarikku dari belakang. Lengan besarnya membekapku dengan saputangan secara  paksa, sementara tangan kekar kanannya yang lain memeluk perutku dengan keras.
            Bau formalin merasuk masuk hidungku. Aku bisa  melihat lengannya yang melingkar diperutku bertatto kupu-kupu. Perlahan aku lihat tattoo Kupu-kupunya lepas. Lalu kupu-kupunya terbang menari indah.  Tapi benarkah kupu-kupunya bisa terbang? Ini pasti permainan pasir di otakku, atau bau formalin yang menyita kesadaranku?  Seluruh pandangannya bergoyang.  Lalu gelap.

***

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Translator: