Sabtu, 25 Juni 2016

TELELOVE bagian 31

PANGERAN. 12
REVOLUSI KEMAMPUAN


Percayakah kmu, sentuhan ksih sayag mebuwat orag bahagiya
 lalu menjadikan pintar?
 Aku percaya.


Maret. 10
Maka mulailah aku tinggal sebagai penghuni ilegal di rumah ibu Ratija. Sebuah rumah sempit yang sesak oleh kehangatan. Sangat berbeda dengan lingkungan hutan buatan, yang berudara segar, damai, sejuk, tenang, kaya akan sinar matahari di waktu pagi hingga sore, di sini aku jarang sekali bisa menatap matahari. Gedung-gedung apartemen yang tinggi ini dibangun berdesakan, hingga kau nyaris tak mendapatkan sinar matahari kapanpun karena bayangan gedung sebelahnya menyelimuti jendelamu. Karena terlalu berdesakan kau bisa mengintip jendela kamar di gedung sebelahnya. Selain itu kau dapat mencium aroma masakan dari dapur gedung sebelah. Bahkan diwaktu malam kau bisa samar-samar mendengar kekacauan suara TV dan obrolan orang yang timbul tenggelam dari gedung sebelah. Bahkan bila kau mau, kau bisa menjelajah seluruh  area kumuh ini tanpa menginjakan kaki di tanah, cukup dengan melompat dari atap ke atap antar gedung. Dari balkon ke balkon.
Mulanya aku sulit beradaptasi dengan cara hidup seperti ini.
            Tapi kata ibu Ratija, sepertinya TUHAN telah mengatur pertemuan kami. Tepat sebelum aku datang, Mreka ditinggal oleh sorang gadis. Kakak tertua mreka yang mreka –sayangi-.
            Kini aku menempati tempat tidurnya. Sedikit kekecilan. Kakiku melampaui batas panjang ranjangnya. Tapi bau selimutnya, wangi bantalnya,  membuat aku tidur pulas.
            Aku harus sembunyi bila ada tamu, atau pengunjung datang. Tapi ibu Ratija, di depan aku dan anak-anak, menjelaskan bahwa ‘aku harus disembunyikan’. Lalu dia menerangkan bagaimana bila aku sampay tertangkap oleh polisi atow pemilikku. Aku tidak akan menjadi ‘orang’ seutuhnya lagi.
            Karena aku –kabur lari- dari tempatku sebagai tawanan. Bukan manusia buatan yan  bebas. Bukan orang bebas. Lewat ibu Ratija, dan anak-anak, aku belajar tentang bangsaku. Merka mensebutnya sebagay mansis, Manusia Sintesis, Kaum KW ataw BS, yang artinya, -tidak sempurna-. Dokter Rut, kau tahu, inilah pertama aku tahu bagaimana posisi aku dan kau sesungguhnya.
            Bahwa secara warga negara, aku tak punya status sosial apapun.
            Di luar itu, bergantian dengan kegembiraan dan gairah yang aneh, kami saling belajar. Ibu Ratija dan 9 kurcaci di apartemen sempit ini, membuatku semakin seperti *Orang*!
Dokter Rut dan  KW3 jika bertmu deganku pasti kalian akan menemukan perbedaan yang banyak.
            Ibu Ratija mengajariku bkerja dan menjadi berguna. Sebagai ‘imbalan’ aku diberi buah-buahan dan sayuran. Seperti jika dokter Rut memberiku makanan ekstra dan kesukaanku bila aku berhasil menyelesaikan sebuah persoalan permaianan.
 Jika malam aku tidur di tempat tidur Qonita, kakak mereka yang pergi.  Satu persatu sahabat baruku akan mengendap-endap mendatangiku. Memberiku makanan yang mereka sisihkan dari jatah mereka yang –sangat sedikit-.
            Dokter Rut, kmu pasti bingung. Bagaimana *orang* sejelek dan seseram  aku bisa membuat mereka sayang padaku? Aku juga tidak tahu jawabnya.
            Satu hal yang aku akan selalu ingat tentangmu dokter Rut, pesanmu agar aku selalu belajar, kini aku lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan aku selalu berterima kasih, sebab walau tak bisa bicara, kau mengajariku bahasa isyarat, baca dan tulis. Dan karena semua itu menjadi lebih mudah bagi  Ibu Ratija yang mengajariku menggunakan internet.
            Lewat internet, tiba-tiba saja dunia bagiku menjadi begitu luas. Dan lebih banyak teka-tekinya.
            Termasuk teka-teki ini:
KENAPA DOKTER RUT TAK PERNAH MEMBERI AKU PENGETAHUAN INTERNET?
            Aku pasti   akan tanyakan ini bila nanti aku bertemu dokter Rut.

                                                                            ***



BERSAMBUNG


Tidak ada komentar:

Translator: