Minggu, 19 Juni 2016

TELELOVE 26




PANGERAN. 10
HALLO!



Dia melihatku! Tapi aku tidak lari. Aku ingin tahu dia mau apa. Dan dia melihatku terus. Matanya indah sekali. Seperti mata KW3 yang bulat besar.  Lalu dari atas sini aku mengikuti mereka. Lalu  mereka masuk ke salah satu gedung.   Yang sering dokter Rut  sebut rumah susun. Lalu aku kehilangan mereka.

Lalu aku melihat sebuah jendela di lantai atas terbuka. Ada tangan anak kecil melambaikan kain warna merah. Lalu dia menaruh buah pisang di sana.
Aku langsung melesat ke sana. Maksudku, aku berjalan, lalu meloncat, dan  Aku tak percaya akan bertemu seorang –teman- di luar hutan buwatan.
Beberapa kali seperti itu. Hingga aku tak pernah lapar. Lalu kudapati waktu makanku tak ada lagi, aku pun memberanikan diri ke sana. Saat aku tiba, aku lihat jendela terbuka, dan buahnya ada di sana.
Ada yang mengambil. Anak itu. Aku dan anak itu kembali saling menatap. Aku tahu dia baik. Tapi kenapa buahnya hanya ia genggam. Tapi lalu dia melangkah. Memgacungkan buah di tangannya padaku.
Aku menerimanya dengan terus menatapnya. Dia –tersenyum- sepertimu dokter Rut. Aku mencoba tertawa.  Tapi mungkin aku tak bisa memberi senyum yang baik. Dia melihatku, takut. Lalu dia mundur. Tapi ia nampak ragu. Dan Matanya mengajakku masuk.
Aku masuk. Lalu jendela tertutup. Otomatis. Sial ini jebakan! Lalu aku merasakan pukulan di belakangku.  Lalu gelap.
Samar aku melihat –lagi- gadis hebatku, si pesek, bibir dan jidat menonjol. Keriting. Lalu gelap. Saat aku terbangun lagi, aku dalam keadaan terikat di kursi. Beberapa anak manusia melihatku dengan melotot, lalu mereka berlarian ke luar ruang. Hanya seorang anak yang tertinggal di sini. Kurasa karena dia tak bisa berjalan. Kakinya hanya seukuran bonggol jagung. Maksudku, kakinya sangat kecil. Tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Dia menatapku. Ketakutan.
Kurasa aku bukan  dalam perangkap kelompok ilmuwan lain. Tapi situasi asing ini tetap saja membuatku gelisah. Aku lupa agar aku selalu tenang. Agar aku tidak mengelupas di depan anak-anak manusia ini.
Ibu, dia sudah bangun. Terdengar  seorang di luar  berteriak . Lalu aku melihat seorang wanita tuwa datang. Dia menatapku. Mulutnya komat-kamit.
Kamu siapa? tanyanya menunjuk diriku.
‘aku Sebelas’, tpi kmu tahu bukan, aku tak bisa bicara. Aku hanya menatapnya, lalu wajah-wajah anak kecil yang mengelilingiku.
Ayooo! kenalkan diri kalian! dia akan baik, jika kita baik. Jangan takut anak-anak. Kata wanita tuwa itu.
Jika dia baik kenapa ibu mengikatnya? anak kecil di sampingku bicara bening, tanpa mengalihkan tatapannya padaku.
Itu untuk berjaga-jaga. kata wanita tuwa itu.
Dia tidak akan menggigit kita? anak kecil lain menempelkan telunjuknya dengan ragu di perutku. Sebentar aku merasa geli, jarinya bukan cuma menempel, menekan, tapi menggelitikku, seperti yang sering dokter Rut lakukan padaku. Dokter Rut, aku yakin, mereka orang baik. Karena mereka mau menggelitikku seperti dokter Rut.
Yah, makanya ibu ikat. Oh, tuan Sisik jika benar kau pemakan buah dan dedauanan, semestinya kmi tak perlu takut padamu ya?dia menyentuh dadaku dengan gemetar, jelas sebenarnya dia takut, tapi dia ingin menunjukan keberaniannya di depan anak-anaknya.
Saya ibu Ratija. Kata ensiklopedi, kamu itu jenis paling jinak, dan nyaris seperti kmi. Tangan kanannya menunjukan benda ditangannya, benda yang oleh dokter Rut diberi nama ipad. Tangan kanannya mengusap tubuhku dengan lembut. Seperti cara dokter Rut menyentuhku. Tapi dari sentuhannya, aku merasakan ada yang berbeda. Tapi tetap saja sama.  Kurasa  Ini sentuhan orang baik.
Lalu ibu Ratija menarik salah satu anak. Ini Karin, 10 tahun. Kata wanita tuwa itu sambil menyentuhkan tangan seorang anak wanita pada tubuhku.
Ini Muti, 4 tahun. Ica, 10 tahun. Lutfi 6 tahun, Nisa, 12 tahun, Dinda 1,5 tahun. Illalang 3 tahun.  Aku menghapal nama-nama itu  segera. Mereka mengenalkan dirinya! Dokter Rut pasti setuju bila aku bilang mereka orang baik.
Mereka mulai berani menyentuhku, merabaku, layaknya aku barang aneh. Sementara aku dalam keadaan terikat dan menahan rasa geli karena sentuhan tangan-tangan mungil mereka. Mereka semua tersenyum ragu.
Haus... mimi...-Dinda, anak yang terkecil di kelompok ini,  menyorongkan –botol- air tawarnya padaku, memaksaku untuk minum.
Nisa. anak yang lebih tua mengingatkannya.
Cepat aku hisap isinya. Yah aku memang sudah haus. Dinda tersenyum. Lucu sekali.
Dokter Rut, apa ada hubungan antara minum air putih dengan perasaan hangat?
Lalu tiba-tiba saja ada alarm berbunyi. Aku begitu panik. Ibu tua itu segera menutupiku dengan karpet.
Pintu terbuka. Ada apa? tanya ibu Ratija. Tapi tak ada jawaban.
Aku bisa mendengar derap kaki bersepatu ‘seragam keamanan’ memasuki ruangan ini. Barang-barang berjatuhan.
Ada bayi menangis. Ada bayi lain menangis juga. Suasana berubah menjadi gaduh.
Nisa! Seseorang memanggil yang lain.   kurasa Nisa menggendong bayi yang satu, sedang ibu Ratija menggendong bayi yang lain. Oh! Ingin sekali aku mengintip apa yang sedang terjadi. Tapi tanganku terikat di kursi ini, dan aku tak bisa menyingkap karpet yang menutupiku. 
Mendengar bayi-bayi itu menangis kencang, aku panik. Aku belum pernah mendengar anak bayi manusia menangis seumur hidupku.
Ibu, saya harap ibu tidak menyembunyikan apapun dari kmi! Tadi  kami lihat, dari kamera pengintai bahwa ada penyusup masuk ke rumah ini. Kata seorang lelaki di sela kegaduhan.
Ibu tahu, sangsi bila ibu memiliki android, ataw mansis ilegal?terdengar suara keras seorang pria.
Kata mansis, itulah yang memanah kepalaku dengan tepat. Mereka sedang mencariku! aku jadi panik. Aku lupa pesan dokter Rut agar aku slalu tenang dalam keadaan apapun.
Jadi aku segera –akan mengelupas-. Aku mulai bergerak, karena gatal. Dokter Rut, dmanakah kaw? Aku ingin suntik anti sakitnya!
Tiba-tiba seseorang menupangkan Dinda di pangkuanku. Sambil berbisik -sssst... diamlah! Sebenatar saja.
Kakak.suara anak lucu itu, dinda, terdengar takut.
Dinda pipis.suara dinda terdengar takut.
Bagus.bisik anak yang lebih tua.

Suara di luar  tetap gaduh. Bayi-bayi tak juga diam. Derap kaki, bantingan pintu, deritan kaca jendela berbunyi semua.





BERSAMBUNG.....

Tidak ada komentar:

Translator: