Rabu, 15 Juni 2016

TELELOVE bagian 22

Putri. 9
SANG BINTANG





 Riuh rendah suara kacau yang berseliweran di kepalaku berhenti. Seperti biasa, aku mengalami serangan dilusi. Suara ribut itu hilang begitu aku membaca email pertamaku dari Kamila. CC pak Jan dan bu Kim pula.
 Ini baru NYATA:
            ‘Tolong konsep iklannya dikirim ke bos besar. SEKARANG!’



Senyata degup jantungku. Kamila ini bagaimana? Katanya konsep detilnya besok. Sekalian membicarakan masalah audisi.
            Belum sempat aku mengetik sehurufpun, pintu ruang bu Kim terbuka.
            “Rapat sodara-sodara, untuk tim produksi, lima menit lagi.ada perkembangan baru dari bos besar. Jangan telat!” Terdengar suara bu Kim menggema di ruangan. Memecah alunan musik terapi.
            Teman-teman dari grupku segera beranjak dari mejanya, membawa note booknya masing-masing. Aku memandang pergerakan yang cepat itu. Pergerakan yang tak ingin menungguku.
            As-ta-ga.
            Rapat dimana konsep detilku akan dijadikan bahan?
            No-n-no-n-no. mati aku.
            Tuhan, sebenarnya Kau siapkan berapa kali keberuntungan untukku di kantor ini? Kulirik Kamila yang memasang wajah  datar. Dia pasti tahu aku grogi.
            “Oke, kita langsung saja. Qon, ada yang akan kau sampaikan tentang konsep detil iklan ASI refill kemarin?” Tanya pak Rudi. Seniorku di grup. Ruang rapat ini sepertinya menjadi ruang eksekusi bagiku. Aku seolah duduk di kursi listrik yang siap kapan saja menerima ribuan watt daya untuk membuat aku mati.
            Aku menggeleng lemas. Ya, aku akan dipecat. Karena seisi kantor ini seudah tahu bahwa akulah yang ditugasi membuat detil konsepnya.
            “Hallo, selamat pagi semua.” Pak Jan tersenyum.
            “Kita akan ajukan bayi kembar dari rumah yatim piatu sebagai modelnya. Kita akan ‘menodong’ rekanan kita untuk melakukan uji coba lapangan terhadap bayi itu.” Suara pak Jan terdengar bergairah. Dia membuka rapat ini begitu saja? Dia melihat ke arahku.
Ah jangan-jangan aku salah mendengar. Aku harus tahu diri, karena otak pasirku sering membuat aku terkecoh dengan dunia nyata. Pak Jan pasti sedang berusaha memancing ideku.
“Apa tidak terlalu berlebihan? dan maaf sebenarnya, bukankah ini semestinya pekerjaan tim produksi? Bukankah banyak pekerjaan bapak yang lebih besar lagi yang harus bapak tangani? Bukan bergabung dengan tim produksi?” suara bu Kim pun terdengar  bimbang.
“Yah, anggap saja aku hanya ‘mampir’ di tim ini.” Jawab pak Jan tenang.
“Bagaimana kami menjelaskan pada rekanan, pak?” Tanya pak Rudi mengulang.
“Meminta android untuk ‘anak yang tak jelas asal usulnya’?” tanya  Kamila sambil  melirikku. Aku tahu apa maksudnya, tapi  aku sudah kebal dengan topik ‘tak jelas asal-usul’ini.
 “Jika rekanan diminta seperti itu, kita bisa kalah dengan pesaing kita yang bisa menekan biaya produksi.” Pak Rudi terdengar pesimis.
 “Apa tidak merusak citra produk? ASI refill ‘hanya’ cocok untuk anak haram.” Kamila masih tetap dengan pendapatnya. Aku tahu siapa yang dimaksud ‘anak haram’ itu. Aku semakin tahu, bahwa dia tidak suka padaku, entah kenapa.
            Sangat berbeda dengan sebulan lalu, saat aku baru bergabung di sini.
“Tidak, jangan khawatir, sesuai dengan semboyan kita yang baru, yaitu ‘memberikan citra kebaikan dengan kebaikan’.” Bu Kim menengok kearah pak Jan dengan ragu. Aku lihat dahi lebar bu Kim memantulkan sinar lampu. Bisa jadi otak bekunya mencair gara-gara sorotan sinar ini. Dia sepertinya menangkap wangsit.
“Wow!” Anita berdecak setuju.
“Keren!” Maria menepukan tangan.
Seputar meja bergairah. Pak Jan tersenyum puas.
“Kita tidak perlu audisi, Qonita akan menerangkan detilnya –sekarang-.” Pak Jan melihat ke arahku.
Alamak! Kenapa harus sekarang? Di meja ini pula?
Oh wangsit turunlah! Turunlah....! doa panik  pun menghujan otak pasirku.
“Tunjukan saja si kembar yang ada dirumahmu!” pinta pak Jan. Oh! Aku mengerti, dia pasti memancing inspirasiku.
Aku lalu meletakan telpon genggamku di meja setelah  mengatur tabel menunya. Mengarahkan sinarnya dari atas meja. Hingga seputar meja ini bisa melihat proyeksi tiga dimensi dari telpon genggam  mungilku.
 Video si kembar Rahman Rahim. Adegan waktu mereka baru tiba, tangis pertama mereka di rumah kami yang heboh, keseharian mereka. Mandi dan berguling-guling. Berganti-ganti pengasuh. Gigi pertama...
Ah baru semalam aku meninggalkan mereka, tapi aku begitu kangen.
“Aiiih, lucu sekali.” Anita terlihat  gemas.
Aku tersenyum bangga.
“Orang tua gila mana  yang tega membuang anak selucu setampan itu?” Maria  menyahuti dari seberang.
“Siapa tahu bila melihat anak mereka menjadi bintang iklan, mereka akan datang mengambil lagi.” Gumam bu Kim.
“Bisakah kita menjadi agen langsung bayi kembarnya, Qon?” Tanya pak Rudi bergairah. “Pasti itu lebih menguntungkan.”
“Ya, bisa buat iklan makanan bayi, kosmetik bayi, popok bayi, mainan bayi.” Tambah Maria sambil bertepuk-tepuk tangan tanda dia dalam keadaan semangat.
Deg! Betul juga, iklan ini akan membuat orang tuanya mengambil dia. Atau menarik perhatian orang untuk mengadopsinya? Lalu rumah kami tak kan seceria waktu ada bayi kembar ini. Haruskah aku bersyukur jika itu terjadi?
“Ok, cukup-cukup... jadi mau kita apakan bayi ini?” tanya Kamila mulai dengan nada sumbang.

Oh wangsit! Turunlah! taburkan pasir dikepalaku ini dengan semesta inspirasi. “Qon?”



BERSAMBUNG.....

Tidak ada komentar:

Translator: